INIPASTI.COM – Datu Museng kini sadar dari rasa harunya. Ia berdiri dan masuk kamar belakang. Sesaat kemudian datang lagi membawa air, lalu duduk di samping mayat isterinya. Dibersihkannya tubuh Maipa, kemudian didudukkan di kursi, leher dibebat kain marah, agar tak kentara bekas lukanya.
Di atas kursi itulah ia duduk bagai semasa hidupnya. Matanya terpejam, muka tunduk seperti pengantin yang malu menunggu mempelai lelaki sepintas lalu orang akan melihatnya seperti perempuan yang sedang tidur dalam kelesuan.
Datu Museng sejenak berdiri kaku di depan mayat isterinya. Hatinya sungguh pedih, jantungnya seakan diiris-iris sembilu. Rasanya ia tak kuat lagi hidup lebih lama tanpa Maipa Deepati. Ya, untuk pertama kalinya pula ia merasa hidupnya sebatang kara. Dahulu, duapuluh dua tahun lampau, ketika kedua orang tuanya tewas, ia merasa kehilangan sesuatu, namun tak sampai menggoncangkan lubuk kalbunya. Kakeknya yang telah mengasuhnya sejak lahir, mampu menggantikan kedudukan kedua orang tuanya.
Tapi kehilangan isteri kesayangannya Maipa Deapati, benar-benar telah menghancurkan hatinya. Ia merasa kehilangan segala-galanya. Tak ada gunanya hidup lebih lama dalam kesepian. Segera datang pikirannya yang nekad untuk segera menyusul isterinya ke alam baqa. Dan keris pusaka segera dicabut kembali dari sarungnya. Namun sebelum keris sempat dibenamkan dalam dada sendiri, terdengar letupan lela dan malela, dan rumahnya bocor-bocor.
Ia segera sadar. Mereka di bawah itulah yang menyebabkan kematian isterinya. Ya, orang-orang di bawah itu adalah binatang yang berwujud manusia. Dan amarahnya kini langsung meluap menguasai seluruh perasaannya. Ia hendak membalas dendam sepuas-puasnya sebelum menyusul isterinya ke alam nirwana.
Dengan wajah merah-padam. ia mulai bergerak cepat. Diraihnya bedil di dinding, kemudian disandarkan di jendela. Sambil bertongkatkan tombak, ia mulai membuang tembakan. Dan seorang kapitan Belanda tersungkur tergapai menentang maut. Tembakan demi tembakan dilepaskannya, dan serdadu jatuh satu demi satu pula.
Melihat serangan Datu Museng yang langsung meminta korban beberapa orang itu, musuh maju cepat mengepung lebih ketat lagi sambil bersorak- sorai membangkitkan semangat sesama kawan. Ada yang langsung naik ke tangga berdesak-desakan, ingin dahulu mendahului membunuh panglima perang Sumbawa itu, dan mengambil kepalanya untuk memperoleh pujian dan sanjungan Tumalompoa.
Joa yang mengawal pekarangan dan pintu rumah, mengadakan perlawanan Sengit. Tapi mereka yang cuma berbilang puluhan itu tak kuasa membendung serangan yang demikian banyaknya. Beberapa menit saja, joa yang setia itu telah tersapu bersih.
Ketika Datu Museng melihat musuh berdesak-desakan di anak tangga, ia menghunus keris pusaka Matatarampanna, lalu melompat ke depan. Gerakan- nya cepat bagai halilintar yang menyambar. Sekelebatan saja, ia telah berada di tengah-tengah musuh yang memadati anak tangga. Keris pusaka langsung ditusukkan bertubi-tubi ke dada lawan yang berdiri di depan. dan kaki yang kuat perkasa diterjangkan sekuat tenaga ke ulu-hati musuh di kiri-kanan.
Bersambung…










