Penulis Zeke J Miller dan Alex Altman dan Elizabeth Diaz
Rintangan, pengelabuan dan kesimpangsiuran informasi
Sejak awal hingga akhir, setiap calon pendamping Donal Trump merasa bahwa sejarah tengah memanggil mereka.
Kubu Chris Christie begitu yakin bahwa gubernur New Jersey itu yang akan dipilih sampai-sampai mendorong mantan state directornya untuk berhenti dari pekerjaan sebagai konsultan berpenghasilan besar guna bergabung dengan kampanye Trump.
Sementara itu, Newt Gingrich juga merasa bahwa angin tengah berhembus ke arahnya, berkat lobi yang diprakarsai pendukung setia partai, termasuk miliarder pengusaha kasino Sheldon Adelson, yang mengisayaratkan bahwa dirinya akan menggelontorkan uang segar ke dlam kampanye Trump apabila mantan ketua DPR tersebut dijadikan pendamping Trump.
Pada saat yang sama gubernur negara bagian Indiana Mike Pence, dibiarkan menunggu dengan tegang di kamar hotelnya di New York pada Kamis malam, berhari-hari setelah para pendukungnya yakin bahwa Trump telah menjatuhkan pilihan kepada Pence, dan berjam-jam setelah bocoran pilihan tersebut menyebar luas.
Tebak-tebakan siapa wakil presiden yang akan dipilih mendampingi Trump, yang akhirnya diumumkan melalui Twitter pada Jumat lalu, bahwa pilihan akhirnya jatuh kepada Pence, dalam beberapa hal dieksekusi dengan kehebohan khas Trump. Sang pemain sandiwara memoles moment tersebut untuk menghasilkan efek publikasi semaksimal mungkin, memeras setiap tetes ketegangan yang ada melalui proses seleksi yang membuat setiap kandidat merasa masih punya kans untuk dipilih mendampingi Trump hingga awal pekan lalu. Selain menegangkan, proses itu juga berlangsung kacau balau, ditandai dengan seringnya terjadi perubahan arah pilihan, komunikasi yang membingungkan, dan kegagalan memanfaatkan peluang.
Timnya tidak mempersiapkan web page baru, membeli mesin iklan pencari atau memperbaharui akun media sosial mereka untuk merefleksikan ke arah mana kemitraan mereka bergulir.
Namun, di sisi lain, pemilihan pasangan tersebut juga memperlihatkan kematangan Trump. Dengan memilih Pence, seorang gubernur dari wilayah barat tengah yang berpembawaan halus yang memiliki rekam jejak sebagai anggota legislatif berpengalaman dan kaitan erat dengan gerakan konservatif, Trump lebih
mengedepankan opsi memilih pendamping yang aman dibanding memilih bintang dan lebih mengedepankan logika daibanding loyalitas. Insting Trump menuntunnya untuk memilih tokoh yang tidak bombastis dan senang menjadi sorotan untuk mengimbangi dirinya. Dalam diri Pence, yang dipuji-puji oleh petinggi Partai Republik nasional dan oleh tim kampanye Trump sendiri, Trump mendapatkan seorang yang kurang dikenal sebagai konservatif sosial, yang mendukung saingan utama Trump, Senator Texas Ted Cruz dalam pemilihan pendahuluan penting di negara bagian Indiana hanya dua bulan sebelumnya. Pilihan tersebut menunjukkan kematangan sebagai kandidat.
Trump dan Pence tidak memiliki hubungan sebelum proses pemilihan pasangan itu, tetapi chemistry di antara mereka telah lulus uji dalam suatu kampanye bersama. Saat itu, Trump mengajak Pence dan istrinya ke klub golfnya di New Jersey pada libur akhir pekan 4 Juli. Pada Senin, saat mana hanya tersisa satu minggu menjelang dimulainya konvensi Partai Republik di Cleveland, lingkaran dalam Trump percaya bahwa calon pendamping Trum sudah mengerucut ke arah Pence.
Namun, keesokan harinya, pembantu politik level atas Trump menjadi khawatir, kata sumber-sumber di dalam kampanye dan Komite Nasional Partai Republik. Gingrich telah melakukan suatu uapaya agresif untuk mendapatkan posisi sebagai pendamping Trump. Mantan ketua DPR itu memperoleh dukungan dari delegasi yang terdiri atas teman-teman, mulai dari para pemimpin evangelis sampai ke donor berkantong tebal, untuk meraih posisi itu. Satu di antara pesan yang paling persuasif berasal dari lingkungan keluarga Trump sendiri, kata dua orang yang mengetahui perembukan keluarga itu. Jared Kushner, suami Ivanka, putri Trump, telah menjadi tokoh sentral dalam lingkungan kampanye sang mertua. Jared Kushner–seorang Yahudi ortodoks yang membantu Trump mereorientasi kebijakan luar negerinya untuk menekankan hubungan dengan Israel–merupakan satu dari petugas penghubung kampanye Trump dengan Adelson, pelobi kebijakan luar negeri yang mengumpulkan uang melalui kebijakan pro-Israel.










