Dua Dosen FKG Unhas Dikukuhkan Sebagai Guru Besar ke-400 dan 401

INIPASTI.COM, MAKASSAR – Universitas Hasanuddin kembali menggelar Rapat Paripurna Senat Akademik dalam rangka upacara penerimaan jabatan professor dalam bidang Ilmu Periodontologi dan bidang Ilmu Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi. Upacara penerimaan Jabatan Professor berlangsung pukul 09.00 Wita di Ruang Senat Akademik Unhas, Kampus Tamalanrea, Makassar, Senin (17/02).

Proses pengukuhan dihadiri oleh Rektor Unhas, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA., Ketua, Sekretaris, dan Anggota Senat Akademik, Dewan Professor, tamu undangan serta keluarga besar dari dua profesor yang dikukuhkan.

Inline Ad

Mengawali sambutannya, Rektor Unhas, Prof Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA., menyampaikan selamat kepada Fakultas Kedokteran Gigi Unhas atas capaiannya. Beliau menuturkan bahwa Unhas memiliki modal intelektual yang sangat baik, sebagaimana terlihat dari jumlah guru besar atau profesor.

“Unhas aktif mendorong pengembangan sumber daya unggul. Dosen-dosen yang telah memenuhi syarat akan dimotivasi untuk menjadi Guru besar. Selain itu sebagai pengelola, kami memiliki mekanisme administrasi yang lebih rapi dan terarah, sehingga kami bisa menjemput dosen-dosen potensial untuk menjadi guru besar,” jelas Prof Dwia.

Dua professor yang dikukuhkan masing-masing adalah Prof. Dr. drg. Mardiana Andi Adam, MS., dengan keanggotaan nomor 400 adalah Professor dalam bidang Ilmu Periodontologi, Fakultas Kedokteran Gigi Unhas. Prof. Mardiana lahir dan besar di Pare-Pare dan merupakan dosen tetap Departemen Ilmu Periodonsia, FKG Unhas.

Adapun jabatan Professor dengan nomor keanggotaan 401 adalah Prof. Dr. drg. Asmawati Amin, M.Kes. Beliau dikukuhkan sebagai Professor bidang Ilmu Biologi Oral, FKG Unhas. Prof. Asmawati lahir dan besar di Ujung Pandang, merupakan dosen tetap FKG Unhas.

Prof. Dr. drg. Mardiana Andi Adam, MS

Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Mardiana menyampaukan pidato berjudul “Pengaruh Fluoride Pada Penyakit Periodontal: Dalam Tinjauan Aspek Sosiodemografi dan Lingkungan”.

Baca Juga:  Mantan Pemeran Utama “Si Manis Jembatan Ancol” Pimpin PT

Prof Mardiana menjelaskan bahwa penyakit periodontal merupakan salah satu penyakit pada rongga mulut yang sering terjadi pada manusia. Penyakit ini ditandai dengan adanya inflamasi gingiva, saku gusi (periodontal pocket) dan resesi gingiva. Kondisi ini muncul karena akumulasi plak yang mengalami remineralisasi menjadi kalkulus yang menyebabkan penyakit periodontal.

Fluoride memiliki efek menguntungkan pada gigi dengan konsentrasi rendah dalam air minum yakni dapat menguatkan struktur gigi. Akan tetapi, paparan berlebihan fluoride dapat menimbulkan efek samping.

“Fluoride tinggi berhubungan dengan periodontitis, terutama pada kasus periodontitis berat. Fluoride menyebabkan degenerasi progresif jaringan periodontol sehingga menghasilkan progresivitas penyakit periodontol dan hilangnya gigi dalam jumlah besar,” kata Prof. Mardiana.

Terdapat perbedaan efek fluoride pada gigi setiap orang yang berada di wilayah fluoride tinggi. Faktor geologi tempat tinggal, status gizi dan aktivitas tubuh seseorang merupakan faktor yang berperan dan mempengaruhi tingkat kerusakan gigi yang disebabkan fluoride.

Lebih lanjut, beliau menuturkan bahwa fluoride dapat meningkatkan remineralisasi jaringan keras gigi, dan mencegah demineralisasi dan karies gigi. Pasta gigi yang mengandung fluoride dapat mengurangi jumlah bakteri, plak dan gingivitis. Fluoride dapat meningkatkan efek pada penghambatan pembentukan plak dan proses kerusakan gigi, mengurangi produksi asam pada plak dan mencegah gingivitis.

“Konsumsi kadar fluoride yang tinggi menyebabkan perubahan hidroksiapatit menjadi fluorapatit (terutama di akar gigi), sehingga periodonsium tahan terhadap kerusakan lebih lanjut. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa periodontitis menyerap kalsium, fosfor dan fluoride ke dalam akar gigi dan tulang pendukung gigi. Hal ini dapat mengganggu metabolisme plak pada gigi dan perkembangan proses periodontitis. Konsumsi fluoride yang berlebihan dapat mengubah keseimbangan pembuluh darah jaringan periodontol sehingga dapat mengganggu pemeliharaan kesehatan periodontal,” kata Prof Mardiana.

Baca Juga:  Menristek Dikti: Jangan Campur Adukkan Politik dalam Kampus!

Prof. Dr. drg. Asmawati Amin, M. Kes.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof Asmawati memaparkan tentang penelitian yang berjudul “Saliva Sebagai Fungsi Pertahanan Rongga Mulut dan Biomarker Status Kesehatan Tubuh (Harapan dan Tantangan)”.

Prof Asmawati menuturkan bahwa saliva atau cairan rongga mulut (air ludah) sangat berperan penting dalam menjaga kondisi lingkungan rongga mulut yang seimbang dan menjaga mukosa dari serangan mikroorganisme serta dapat berfungsi sebagai cairan pelumas atau lubrikasi yang melindungi mukosa terhadap iritasi mekanis, kimiawi dan termis.

Komponen organik saliva yang utama adalah protein yang secara kuantitatif penting adalah alpha-amilase, protein kaya prolin dan musin. Protein saliva memiliki fungsi protektif terhadap antimikroba, lubrikasi dan pencernaan, komponen tersebut berperan pada integritas fungsional rongga mulut dan mendukung proteksi melawan penyakit rongga mulut, sedangkan alpha-amilase memecah makanan menjadi kesatuan karbohidrat yang kecil sehingga mudah di cerna.

Pemeriksaan saliva dapat memberikan informasi secara keseluruhan tentang kesehatan pasien baik penyakit rongga mulut maupun bagian tubuh yang lain karena saliva merupakan cerminan dari keadaan umum pasien. Cairan biologis ini bisa memantau keadaan penyakit sehingga saliva dalam diagnostik molekuler dan potensinya dimasa yang akan datang patut diperhitungkan.

Pengetahuan dan inovasi bidang kedokteran gigi telah berkembang dengan pesat selama beberapa tahun terakhir. Perkembangan tersebut berlandaskan atas pemahaman biologi oral yang secara komprehensif mempelajari fenomena biologis di dalam rongga mulut yang dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan rongga mulut maupun kesehatan tubuh secara umum.

“Biologi oral dapat memberikan penjelasan mendasar mengenai mekanisme yang komprehensif sampai ke tingkat molekuler mengenai fenomena biologis dalam rongga mulut yang menjadi cermin tubuh. Saliva omiks memiliki potensi untuk mendiagnosa penyakit tahap dini, namun penelitian yang berbasis saliva masih dibatasi oleh kurangnya metode dan teknik yang efisien,” jelas Prof Asmawati.

Baca Juga:  P3KG dan AJB Bumiputera 1921 Gelar Seminar Nasional

Diakhir pidatonya, beliau mengatakan RSGM Unhas harus mempersiapkan diri agar beradaptasi dengan perubahan yang disruptif serta melakukan peluang inovasi dan harus memaafkan teknologi yang ada. Hal ini harus dilakukan agar bisa bersaing dengan Rumah Sakit di dalam maupun luar negeri. Revolusi industri 4.0 tentunya sangat mendorong inovasi teknologi dan servis yang bisa memberikan dampak perubahan utamanya pelayanan pada masyarakat yang mengedepankan mutu pelayanan yang aman bagi pasien.

Rapat Paripurna Senat Akademik dalam rangka penerimaan Jabatan Professor berlangsung dengan hikmat hingga berakhirnya acara pukul 11.30 Wita.(*)

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.