Faktor Penyebab Tekanan Inflasi 2017

Kepala BI Perwakilan Sulawesi Selatan (Sulsel), Wiwiek Sisto Widayat

INIPASTI.COM, MAKASSAR – Bank Indonesia, telah mengingatkan tekanan inflasi yang akan terjadi pada 2017. Tekanan ini mulai terlihat dimana inflasi pada dua bulan terakhir cukup tinggi.

Kepala BI Perwakilan Sulawesi Selatan (Sulsel), Wiwiek Sisto Widayat menyebutkan inflasi pada bulan Januari yaitu 1,112 dan Februari 0,75, kalau years to date berada pada angka 1,87. Jika melihat angka tersebut, artinya ini cukup tinggi.

“Dua bulan ini, sumbangan inflasi cukup besar dari pulsa telepon. Ini cukup mengagetkan. Artinya, ada satu unit yang harganya naik. Di Februari kita tidak dengar ada kenaikan harga pulsa telepon per unit. Kalau kuantitas, itu tidak berpengaruh.‎ Dan kalau ini tidak dikendalikan, akan jadi tekanan yang cukup berat,” kata Wiwiek, usai bertemu, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, Kamis (2/3/2017)

Baca Juga:  Eksportir Diminta Manfaatkan Peluang Ekspor Jalur Udara

Ia menambahkan, tekanan inflasi kuat di tahun 2017 akibat adanya kebijakan harga yang dikendalikan pemerintah. Seperti, tarif listrik, biaya administrasi Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), dan peningkatan harga bahan bakar non subsidi.

“Kami memperkirakan inflasi tahun 2017 menembus angka 4,78.‎ Bahkan jika ada peningkatan harga elpiji tiga kilogram, bisa mencapai 5,6.” Ujarnya

Baca Juga:  Masalah Kenaikan Harga Komoditas, Ini yang Dilakukan Mentan

Sementara itu, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, mengaku telah menyiapkan strategi untuk mengatasi inflasi, termasuk memaksimalkan peran Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Bahkan, dirinya telah meminta agar segera dibentuk desk bersama untuk merumuskan langkah-langkah apa yang akan diambil.

“Tim yang ada harus membuat zonasi tiap daerah, apakah masuk zona merah, kuning, atau hijau. Sehingga, bisa konsentrasi dalam
menangani inflasi di tiap daerah. Jika ada pemetaan, kepala daerah akan tahu bagaimana sebenarnya kondisi daerah mereka‎,” kata Syahrul.