Oleh: Mirah Midadan
INIPASTI.COM, ANALISIS — Gejolak harga daging sapi di pasar tradisional khususnya di daerah Jabodetabek membuat beberapa pedagang daging sapi melakukan aksi mogok jualan. Tren harga daging sapi dalam seminggu terakhir memang mengalami lonjakan drastis. Di pasar tradisional kawasan DKI Jakarta, harga daging sapi yang rata-rata dijual dengan harga Rp129.320/kg selama Januari 2021 sebelum pada akhirnya menyentuh angka Rp133.350/kg pada 25 Januari 2021. Kenaikan harga serupa juga terjadi di pasar tradisional kota Bogor, di mana sejak tanggal 11 Januari 2021 harga daging sapi per kilogramnya telah berada di atas Rp130.000. Walaupun demikian, secara nasional, harga daging sapi yang dijual baik di pasar tradisional maupun modern masih stabil pada harga Rp119.303 selama Januari 2021.[1]
Gap Kebutuhan Daging Sapi
Normalnya, harga jual daging sapi mengalami peningkatan pada perayaan hari keagamaan atau hari besar lainnya di Indonesia. Namun, kenaikan mendadak pada awal tahun merupakan hal yang jarang terjadi, serta kondisinya diperparah dengan pandemi Covid-19. Menurut Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI, stok daging sapi masih cukup untuk kebutuhan konsumsi nasional namun terjadi peningkatan harga karkas di tingkat Rumah Potong Hewan (RPH) sekitar 11,6% sampai 12,6% selama Januari 2021. Artinya, kenaikan harga daging sapi yang terjadi saat ini tidak dilatarbelakangi kelangkaan stok, melainkan adanya peningkatan harga dari sektor hulu.
Indonesia memang masih sangat bergantung pada Australia[2] untuk memenuhi konsumsi daging sapi. Kemampuan produksi dalam negeri tahun 2020 hanya 422.533 ribu ton, sedangkan kebutuhannya sebesar 269.603,4 ribu ton[3]. Peningkatan harga sapi di Australia yang disinyalir sebagai dampak pandemi Covid-19 menjadi pemantik utama peningkatan harga daging sapi, khususnya di daerah Jabodetabek.
Masalah lainnya adalah pendistribusian daging sapi dari daerah produsen ke daerah yang memiliki permintaan daging sapi tinggi. Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan kontributor produsen tertinggi di Indonesia selama 2020, di mana produksi daging sapi di Jawa Timur setara dengan 37% produksi nasional. Sementara itu, DKI Jakarta hanya mampu menghasilkan sekitar 0,29 ribu ton. Padahal, secara statistik menyatakan bahwa kebutuhan konsumsi daging sapi di DKI Jakarta merupakan yang tertinggi secara nasional, yakni sekitar 67,48 ribu ton selama tahun 2020 atau setara dengan 6,38 kg per kapita. Lebih lanjut, konsumsi daging sapi per kapita per tahun 2020 di Jawa Timur sekitar 3,46 kg, Jawa Tengah 2,52 kg, dan NTB sebesar 4,25 kg.
Data tersebut menunjukkan bahwa permintaan daging sapi terbanyak berada di Pulau Jawa, khususnya DKI Jakarta, sehingga distribusi daging dari daerah produsen daging sapi ke daerah Jawa menjadi variabel penting. Namun, masalah klasik yang sampai saat ini masih dialami Indonesia adalah tingginya biaya angkut atau transportasi antar pulau untuk sapi bakalan dan sapi siap potong. Biaya yang timbul dari proses distribusi, penggemukan sapi, hingga pemotongan di RPH tentu saja akan mempengaruhi harga pada tingkat pedagang kecil di daerah.
Tahun 2015 lalu, Pemerintah telah meluncurkan kapal ternak dengan harapan dapat menekan harga daging sapi di pasaran dengan mengangkut sapi dari NTB dan Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memenuhi kebutuhan di DKI Jakarta dan Jawa Barat, namun belum berhasil. Banyaknya biaya tambahan seperti administrasi persuratan dan proses lainnya yang memerlukan biaya tambahan ternyata belum dapat diselesaikan hanya dengan menginisiasi alat angkut khusus antarpulau. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang terintegrasi seperti upaya peningkatan jumlah produksi sapi lokal, pemberian insentif pada tahap distribusi, pengurangan biaya administrasi perizinan untuk distribusi sapi khusus dari daerah surplus ke daerah defisit stok daging sapi, pengaturan pola importasi, serta upaya kampanye substitusi konsumsi daging sapi ke jenis daging serupa lainnya seperti daging kambing dan daging domba[4].
Imbas ke UMKM
Di tengah pandemi Covid-19, kontribusi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi harapan besar Indonesia untuk menyelamatkan perekonomian nasional. Tidak hanya restoran dan rumah makan yang terdampak atas meroketnya harga daging sapi, melainkan juga pedagang bakso di Jabodetabek cukup galau untuk mengambil sikap. Meningkatkan harga jual seporsi bakso, apalagi di tengah menurunnya daya beli masyarakat saat ini, bukan menjadi jalan keluar bagi pelaku UMKM tersebut. Namun, menjual seporsi bakso tanpa melakukan penyesuaian harga tentu saja akan sangat memukul mereka. Sehingga, sangat jelas efek ganda yang ditimbulkan dari peningkatan harga komoditas daging sapi, mulai dari pedagang besar, pedagang kecil, hingga para pelaku diversifikasi pengolahan daging sapi di pasar.
Agar kegalauan ini tidak terjadi dalam durasi yang lebih panjang, maka diperlukan kreativitas dari pelaku pengolahan daging sapi untuk dapat melakukan diversifikasi. Misalnya untuk penjual bakso, dapat melakukan substitusi dari daging sapi menjadi daging ikan. Pemerintah tentu dituntut mengambil langkah cepat mencari alternatif mitra dagang untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dalam negeri dengan nilai transaksi perdagangan yang tidak jauh berbeda dengan Australia. Walaupun kontribusi UMKM yang berfokus pada pengolahan daging sapi tidak begitu mencolok untuk perekonomian nasional, namun pada kondisi pandemik seperti ini mereka tetap perlu menjadi fokus perhatian sebelum menyebabkan peningkatan pengangguran.
[1] PIHPS Nasional, diakses pada 26 Januari 2021.
[2] Statistik Impor, BPS, 2020.
[3] Peternakan dalam Angka Tahun 2020.
[4] Matondang, Rasali Hakim. (2014). Diversifikasi Pangan Hewani melalui Peningkatan Peran Daging Kambing dan Domba. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 33(3).
//Penulis, Peneliti Center of Food, Energy, and SDGs INDEF










