INIPASTI.COM, MAKASSAR – Ince Kebo Lallo (93) terdaftar sebagai Jemaah Calon Haji (JCH) tertua Kota Makassar yang berangkat melalui Embarkasi Makassar. Betapa tidak, umurnya kini sudah hampir satu abad. Pada tas selempang dari Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel, tertulis ia lahir di Pangkep, 31 Desember 1923.
Namun, wanita yang sudah 40 tahun menjanda ini berbeda dengan JCH seusianya. Bahkan JCH yang usianya masih setengah dari usianya itu sudah terlihat menggunakan kursi roda, ia tetap tampak segar bugar. Yang lebih menakjubkan, oleh petugas kesehatan haji, ia dipakaikan gelang hijau pertanda tidak adanya indikasi penyakit dalam tubuh kecil sang nenek ini.
Tingginya hanya sekitarnya 150cm. Ia pun masih kuat bahkan terbilang lincah berjalan. Ia juga mengaku masih bisa melihat dengan jelas. Saat namanya disebut oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Makassar, ia pun dengan sigap menggendong koper berisikan pakaian tanpa merasa berat sedikit pun. Ia amat begitu, sehat, segar bugar, kuat, dan bahkan tangguh dengan usianya yang sudah 93 tahun.
“Saya rutin setiap pagi jalan kaki ke Pasar Terong dari rumah,” ujar warga Jalan Barukang II, Makassar ini dalam bahasa Makassar yang diterjemahkan oleh tim inipasti.com, Rabu, (2/8/2017).
Selain rutin berolahraga dengan jalan kaki setiap pagi, ia juga berbagi kiat lainnya. Ibu 7 orang anak ini mengungkapkan bahwa selama hidupnya, sama sekali ia tak pernah makan daging. Bahkan daging ayam pun, baru pertama kalinya ia makan di Asrama Haji Sudiang karena hanya itu yang disediakan oleh PPIH Embarkasi Makassar. Itu pun, Ince Kebo tak menghabiskannya.
“Tidak sembarang saya makan. Saya tidak makan daging. Makan daging ayam pun baru di sini. Lauk saya itu ikan yang kecil-kecil, teri, dan sebagainya,” ucapnya lagi.
Janda dari Almarhum Ince Abidullah ini juga mengaku rutin minum air putih secukupnya setiap hari. Setiap ia bangun tidur sebelum hendak melaksanakan shalat subuh, ia rutin minum segelas air putih. Selain air putih, ia mengaku tak minum minuman lainnya. Baik itu teh, susu, maupun minuman lainnya.
Pada usia menopause itu, ia mengaku tak pernah sekalipun meninggalkan ibadah puasa. Selama bulan suci Ramadhan, satu bulan full ia berpuasa tanpa ada yang terlewati. Sedangkan untuk sedekah, dengan mata berkaca-kaca ia mengatakan bahwa tak banyak yang ia bisa sedekahkan.
“Kalau sedekah uang nak, tidak banyak yang bisa saya sedekahkan, karena saya orang tidak mampu. Tapi saya sering sedekah pakaian kepada orang-orang yang lebih membutuhkan,”.ceritanya haru.
Guru mengaji di sekitar Pelabuhan Paotere ini pun mengungkapkan bahwa ia bisa mendaftar haji dari tabungannya selama berpuluh-puluh tahun. Sedangkan untuk pelunasan biaya hajinya dibayarkan oleh anak-anaknya.
Ia pun kini telah menuju Madinah bersama JCH Kloter 7 lainnya. Selama 9 hari melakukan ibadah Arbain, rombongannya baru akan menuju Mekkah. Setelah sebulan penuh di Kota Mekkah, barulah rombongan ini akan kembali ke tanah air pada 11 September mendatang. (Sule).










