Jemaah Haji Termuda Sultra Saksi Kuasa Allah Selama Berhaji

Jemaah Haji Termuda Sultra Martina Hingis (kiri) berfoto bersama sepupunya, Umrah setelah tiba di Asrama Haji Sudiang, Jum'at, (6/9/2019). (Foto : Sule)
Top Ad

INIPASTI.COM, SUDIANG – Manusia adalah makhluk lemah. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, manusia mempunyai keterbatasan dalam melakukan hal-hal tertentu. Bahkan dalam kondisi fisik yang normal pun, ada saja hal yang tidak bisa dilakukan oleh manusia.

Namun, jika kuasa Allah ikut andil dalam pelaksanaannya, maka hal yang mustahil dilakukan oleh seseorang akan dengan mudah dilalui. Meskipun setelah itu, barulah orang tersebut terheran-heran, bahwa dirinya telah melewati sesuatu yang secara logika tidak bisa dia lakukan.

Kuasa Allah inilah yang dirasakan oleh Jemaah Haji Termuda Provinsi Sulawesi Tenggara Martina Hingis (18). Setibanya di tanah air, dia mengaku heran dan takjub telah bisa melewati ibadah haji yang memang harus menguras fisik.

Mahasiswi STIFA Makassar ini tidak menyangka fisiknya mampu melakukan perjalanan sejauh 8 KM dengan berjalan kaki. Apalagi selama ini, tak pernah sekalipun dia melakukan perjalanan sejauh itu.

Baca Juga:  Mahasiswi Ini Jadi Jemaah Calon Haji Termuda Sidrap

“Yang paling menakjubkan itu saat melontar jumroh. 8 kilo PP (pergi pulang) dengan jalan kaki. Ini kuasa Allah, karena kalau bukan kuasanya Allah, tidak bakalan bisa kita lalui semua itu,” ujar gadis kelahiran Toaha, 2 Maret 2001 ini.

Selain itu, alumnus Pesantren IMMIM Pengkep ini juga merasa bahagia karena bisa mencium Hajar Aswad. Meski hanya sekali, tapi dia sudah bersyukur bisa melakukan hal yang diimpikan oleh semua jemaah haji.

“Sempat cium Hajar Aswad juga, itu waktu baru tiba di tanah suci, besoknya langsung dapat kesempatan cium Hajar Aswad bersama bapak,” jelas Martina yang berangkat haji bersama ayahnya, Usman (45).

Martina Hingis berpose bersama keluarganya saat tiba di Asrama Haji Sudiang, Jum’at, (6/9/2019). (Foto : Sule)

Kesyukurannya itu menyusul adanya kejadian kurang beruntung dari jemaah haji lain. Dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri beberapa jemaah haji yang berhimpitan hingga terinjak-injak saat hendak mencium batu hitam yang diyakini berasal dari Surga itu.

Baca Juga:  Ketua KPU Maluku Adu Mulut dengan Polwan Saat Pelepasan JCH Kloter 13

“Segala yang dilakukan saat haji semuanya berkat kekuatan yang diberikan oleh Allah SWT. Contohnya tawaf, saat tawaf tidaklah sedikit orang yang melakukannya. Semua orang dari penjuru dunia tawaf dengan berhimpitan. Kemudian saat di Arafah, di Musdalifah, di Mina. Saat di Madinah juga, waktu ingin masuk ke Raodah. Karena semua orang berlomba untuk bisa masuk berdoa dan berdzikir di samping makam Rasul,” urainya.

Saat ini, anak sulung dari pasangan Usman dan Harlina ini telah meninggalkan tanah suci. Kini, dia hanya bisa terbayang-bayang keindahan Baitullah dan seluruh tempat yang dikunjunginya selama di tanah kelahiran Nabi Muhammad SAW itu.

Dengan segala kesyukurannya bisa menunaikan ibadah haji diusianya yang masih sangat belia itu, dia berharap bisa menjaga kemabruran hajinya. Martina bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

“Semoga bisa menjadi haji yang mabrur, dan bisa jadi lebih baik lagi. Tentunya, semoga bisa membahagiakan kedua orangtuaku,” tutup jemaah haji asal Kolaka Utara itu. (Sule)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.