Kapitalisasi Peran Startup Pertanian

Oleh: Agung SS Raharjo, MPA

INIPASTI.COM, ANALISIS — Pada kondisi apapun kecukupan pangan harus terpenuhi dimanapun dan kapanpun. Tidak boleh ditemui sebuah kondisi kelaparan yang mengancam kehidupan individu. Bahkan tidak juga terhadap potensi gizi buruk sekalipun. Negara harus hadir dalam menjamin kesejahteraan dan kehidupan bangsa melalui jaminan ketersediaan pangan. Pangan adalah persoalan hak asasi dan berdampak vital terhadap stabilitas sosial politik. Oleh karena itu penting kemudian untuk menguatkan tiga pilar ketahanan pangan yang meliputi sisi ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan konsumsi pangan. Aksesibilitas menjadi satu unsur penting dalam tata kelola sistem logistik pangan nasional.

Inline Ad

Persoalan rawan pangan akan selalu menjadi masalah klasik dan mudah ditemui dinegara-negara berkembang atau terbelakang. Bahkan di negera ini, kondisi krisis pangan, menjadi sesuatu yang paradoks. Hamparan sawah yang begitu luas tidak kemudian serta-merta menjamin keterjangkauan dan ketersediaan pangan. Kondisi dan situasi alam yang berbeda antar daerah menjadi satu penyebab munculnya persoalan pangan. Belum kemudian mengkaji pada sisi efektivitas dan efisiensi dari sisi usaha tani dan perdagangan komoditas pangan. Harga pangan menjadi triger pada sisi aksesibilitas atau keterjangkauan. Inilah kemudian dapat kita pahami bahwa ketersediaan pangan tidak sepenuhnya selalu memberikan jaminan kepada setiap individu untuk dapat memenuhi kebutuhan pangannya. Ada problem keterjangkauan berkenaan dengan kemampuan daya beli. Disinilah pasar dan rantai komoditas pangan perlu mendapat intervensi dari sisi pembentukan harga untuk bahan pangan.

Persoalan pangan dalam realitasnya tidak semata muncul dari sisi pemenuhan kebutuhan konsumen namun juga datang dari sisi pelaku produsen. Petani cenderung tidak memiliki posisi tawar yang baik dalam sistem rantai pasok perdagangan pangan. Para pelaku pasar, yang berada di immediatery chain, memiliki peluang keuntungan yang lebih besar. Pengambilan margin perdagangan cenderung memihak kepada pelaku pada jalur perantara. Dan kondisi inilah yang saat ini tengah terjadi. Dalam konteks telaah margin pengangkutan dan perdagangan, rantai pasok komoditas pokok dan strategis yang sudah relatif pendek ternyata  tidak serta merta kemudian mengefisiensikan pembentukan harga akhir.

Baca Juga:  Politik Wacana dan Journalisme Data

Masih ada ruang margin yang lebar disana. Hal inilah yang kemudian memunculkan kesenjangan pendapatan diantara para pelaku usaha dan perdagangan komoditas pangan/pertanian. Kondisi ini tentu sangat dirasakan oleh para petani selaku produsen pangan.

Pasar dan Startup

Dalam pengertian sederhana, pengertian pasar adalah sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi jual-beli baik berupa barang maupun jasa. Adapun definsi pasar menurut Kuntowijoyo (1994) adalah sebagai mekanisme (bukan hanya sekedar tempat) yang dapat menata kepentingan pihak pembeli terhadap kepentingan pihak penjual. Dalam hal ini apa yang dikemukakan oleh Kuntowijoyo menempatkan pasar sebuah sebuah ruang transaksi yang tidak terikat oleh tempat secara fisik. Ada regulasi, kesepakatan, norma, dan ketentuan-ketentuan tidak tertulis yang harus dihormati bersama.

Keberadaan pasar, dari awal hingga saat ini, terus mengalami perubahan dan pemaknaan seiring dengan peran-peran yang dilakukan. Terutama terkait dengan pengaktegorian secara lebih modern menyangkut media atau sarana yang dipergunakan. Seperti halnya pemanfaatan teknologi digital atau media-media sosial berbasis daring. Disinilah relasi dan komunikasi produsen dan konsumen mencoba dibangun secara lebih efisien dan efektif dalam tata kelola rantai pasok pangan. Keberadaan produsen dan konsumen pada keseluruhan sistem logistik pangan menempati posisi yang sama pentingnya.

Merespon dari beragam persoalan pangan yang ada, satu langkah strategis yang dapat dilakukan dalam hal penyediaan dan aksesibilitas pangan yaitu membangun hub-hub distribusi pangan diberbagai wilayah. Begitupun juga dapat memanfaatkan perkembangan teknologi di era revolusi industri 4.0 melalui pengembangan strart up bidang pertanian atau pangan. Pembangunan hub-hub distribusi pangan diaras lokal dan pengembagan startup pangan dengan basis teknologi informasi menjadi langkah strategis dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan saat ini. Terlebih Indonesia sebagai negara kepulauan tentu penanganan urusan pangan membutuhkan pola-pola penyelesaian yang lebih ekstra.

Baca Juga:  Paradoks Infrastruktur, Manufaktur dan Lapangan Kerja

Membangun plaftorm usaha dengan berprinsip pada efektifitas dan efisiensi, strart up bidang pertanian telah menawarkan beragam solusi pemenuhan kebutuhan pangan dengan pendekatan yang lebih praktis dan simple.Tidak semata menguntungkan konsumen namun juga para petani selaku produsen pangan. Saat ini tersedia beberapa startup pertanian atau pangan yang dapat menjadi alternatif untuk menjembatani hasil produksi di tingkat petani dengan pasar. Beberapa antaralain: (1) Agromaret, adalah komunitas dan marketplace yang berfokus pada sektor pertanian dan telah beroperasi sejak tahun 2009. (2). TaniHub, layanan ini berangkat dari keinginan untuk membantu petani menjangkau konsumen secara langsung tanpa campur tangan tengkulak. Platform  ini dirasa sangat menguntungkan bagi para petani karena mereka bisa mendapat keuntungan yang memadai  dari harga yang dijual ke tengkulak. (3). Petani, bila TaniHub berkonsentrasi pada pemasarannya, aplikasi Petani berfokus pada layanan informasi untuk para petani. (4). Pantau Harga, aplikasi yang dibesut oleh Code4Nation ini bertujuan untuk membantu konsumen memantau harga komoditas pangan di lingkungan sekitar mereka, dan membeli produk tersebut dengan kualitas yang baik serta harga yang kompetitif. Dan (5). LimaKilo, aplikasi LimaKilo hadir untuk memotong pola pendistribusian produk pertanian, di mana pembeli langsung dipertemukan dengan penjual. Sesuai dengan namanya, aplikasi ini ditujukan bagi pembeli kebutuhan pangan dalam jumlah paling sedikit 5 kilogram. Bila lebih dari 5 kilogram, pelanggan bisa menggunakan layanan beli grosir pada aplikasi ini.

Kapitalisasi Peran

Pemenuhan pangan merupakan pemenuhan hak asasi kehidupan agar dapat terus produktif dan berkesinambungan. Namun memang pada kondisi tertentu kita acapkali menghadapi beragam persoalan dan tantangan.

Baca Juga:  Realita Penegakan Hukum di Indonesia

Terganggunya pemenuhan urusan pangan ini akan berdampak pada aspek-aspek kehidupan yang lain bahkan berujung mengganggu stabilitas politik.

Sehubungan dengan hal tersebut, pada masa keberlimpahan informasi saat ini, sebagian urusan ketahanan pangan dapat diintervensi melalui beragam model platform produk teknologi.  Keberadaan stratup bidang pertanian atau pangan harus dipandang sebagai sebuah terobosan yang penting dan strategis. Plaform atau stratup tersebut telah memberikan sebuah warna baru dalam penguatan ketahanan pangan di negeri ini. Meski masih menyisakan beberapa kendala dan tantangan ditingkat lapangan, namun demikian semua upaya ini adalah sebuah prestasi tersendiri dari para anak bangsa yang menaruh kepedulian pada urusan pangan. Dan keberadaan platform ini harus mampu dikapitalisasi pada sisi pemanfaatan penguatan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani di negeri sendiri. Tabik.


//Penulis, Analis Ketahanan Pangan
Badan Ketahanan Pangan-Kementan

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.