INIPASTI.COM, TAKALAR- Tulisan berikut ini akan memperjelas simbol-simbol perumpamaan yang dipakai dalam prosesi Maudu Lompoa di Cikoang. Salah satu simbol itu adalah buah kelapa. Simbol-simbol yang lain berikut maknanya, telah dijelaskan dalam tulisan terdahulu.
Pada pembahasan terdahulu, kita sampai pada bagian (b) tentang simbol ayam. Pada bagian ini kita tiba pada simbol (c) tentang kelapa. Kelapa diumpamakan hati (hakikat). Bentuk pelaksanaanya terbagi atas tujuh unsur diantaranya:
1. Niat penyebab/usaha (niatan pakaresoanna),
2. Sabutnya (sau’na),
3. Tempurungnya (kadarona),
4. Kulit dagingnya (bukkuleng assinna),
5. Airnya (jene’na),
6. Dagingnya (assinna),
7. Minyaknya (minyana).
Kelapa ketentuanya minimal satu buah setiap satu orang.
Simbol (d) tentang telur. Simbol telur ini diumpamakan rahasia (ma’rifat). Bentuk pelaksanaanya terbagi atas tujuh unsur, diantaranya:
1. Niat penyebab/usaha (niatan pakaresoanna),
2. Kulitnya (ba’bina),
3. Selaputnya (babbi’ kebo’na),
4. Daging putih (kebo’na),
5. Daging kuning (didina),
6. Asal telur/ayam atau itik (bayao jangang; kiti)
7. Warnanya (tan’jana).
Telur ketentuan satu butir satu orang.
Ketentuan tersebut dianggap sebagai titik wajib untuk mendapatkan satu juta hasanat, sebagaimana yang terurai dalam kitab Aqidhatul Amin. Sabda Rasulullah SAW (HR Bukhari dan Muslim), yang artinya siapa yang berbuat amal Mauludu dalam bulan Rabiul Awal, ditulis oleh Allah SWT satu juta kebajikan dan dihapus satu juta kesalahan.
Adapun kunci tujuan hadis tersebut, ialah suci dan Ikhlas. Setelah keempat titik wajib tersebut tersedia, dapat lagi diusahakan kelengkapan isyarat dalam pelaksanaan seperti bakul untuk mempertemukan satu pandangan dari keempat titik wajib. Sedianya itu, sesuai dengan situasi dan kondisi kesanggupan atau keikhlasan yang bersangkutan dapat digolongkan dalam satu haj yang paling menonjolkan dalam pelaksanaan Mauludunnabi Muhammad SAW yang dirayakan di Cikoang setiap bulan Rabiul Awal, dan yang dirampungkan oleh jemaah ajaran Sayyid Djalaluddin di luar Cikoang adalah “pondokang kanre maudu julung-julung bembengan kandawri”.
Semua yang tampak dan nyata berada dalam lingkaran niat pemilik sandang atau pangan yang berbentuk apapun mempunyai bentuk khusus, kecuali benda yang tidak halal. Dalam ma’rifat pelaksanaan dibarengi dengan ketentuan wajib, yaitu niat, wudhu, membacakan zikir dan doa.
“Bagi setiap pengunjung yang bertujuan baik dan ikhlas, Insya Allah restu dan barakah, peningkatan dan kemajuan dapat dinikmati khusus, maupun umum, dalam hidup dan kehidupan. Kita harus yakin dan percaya bahwa Takalar, Tau Kalumannyang Lino Akhirat,” urai seorang pendukung fanatik Maudu Lompoa di Cikoang.
Baca juga: Hikmah Khusus Mauludunnabi Muhammad SAW










