INIPASTI.COM, MAKASSAR – Ada yang menarik dari awal perjalanan Pembantu Direktur (PUDIR) III Akper-Akbid Reformasi Makassar, Zamli, SKM, M.Kes, waktu pertama kali datang ke Makassar. Orang tuanya hanya membekali uang transpor dan uang makan Rp 150 ribu selama perjalanan ke Makassar dan selebihnya dicari sendiri.
Dari pengalaman merantau kuliah di Makassar, bisa menjadi renungan sekaligus inspirasi bagi anak-anak muda, khususnya bagi orang- orang sekampungnya maupun lainnya yang saat ini masih sedang menuntut ilmu (kuliah).
Putra kelahiran Lakudo, Kabupaten Buton, Provinsi Sultra, 11 November 1981 meninggalkan kampung kelahirannya untuk lanjut studi S1 di STIK Tamalate Makassar. Zamli ini adalah tamatan diploma tiga (D3) di Poltekes Kendari.
Saat tiba pertama kali di Makassar, dia merasa bingung, karena tidak memiliki sanak keluarga di Makassar. Selain tidak memiliki keluarga, bekal yang mereka bawa pun sangat terbatas
Orang tuanya hanya memberi uang transpor (sewa kapal laut) dan uang makan di jalan sebesar Rp150 ribu ditambah uang pembayaran SPP di STIK Tamalate sebesar Rp750 ribu. “Ini uang yang pertama dan yang terakhir diberikan oleh orang tuanya selama studi di Makassar, yang sekarang ini sudah lanjut lagi program doktor (S3) di Unhas,”tutur Zamli.
Orang tua Zamli beralasan dengan modal ijazah diploma tiga yang dipunyai itu bisa digunakan untuk mencari uang. Sehingga orang tuanya hanya memberi uang satu kali saja, yang lainnya diusahakan sendiri.
Dengan usahanya sendiri, Zamli bisa menyelesaikan studinya di STIK Tamalate, kemudian lanjut studi S2 di FKM Unhas dan sekarang ini lanjut S3. “Insya Allah 2018 saya sudah bisa menyelesaikan program doktor,”ujarnya.
Awal pertama datang di Makassar, Zamli tinggal bersama temannya, yang dulu teman kelas di SMA Kendari, selama 6 bulan. Kebetulan temannya memiliki rumah tinggal dekat dengan kampusnya. Karena tidak ada kiriman uang dari oran tua, maka sambil kuliah sekaligus cari uang untuk biaya studi dan makan.
Karena Zamli memiliki sedikit keterampilan mengetik, maka dia memberanikan diri untuk melamar kerja di salah satu usaha pengetikan yang kebetulan lokasinya tidak jauh dari kampusnya. Dari sini Zamli mendapat upah kadang Rp2000 hingga Rp10.000 dalam sehari. Uang inilah yang ditabung, sekaligus untuk makan sehari-hari. Sambil rezki dari orang sekampungnya yang kebetulan transit dan singgah di Makassar. Biasanya mereka diberi uang Rp10 ribu hingga Rp20 ribu.
Selain itu, dia juga aktif mengikuti kegiatan seminar untuk mendapatkan sertifikat. Sertifikat ini kemudian dijual kepada teman – temannya yang membutuhkannya. Disamping itu, di juga menjual alat-alat kesehatan, seperti tensi, alat-alat bidan dan lainnya. Alat-alat kesehatan termasuk mereka jual di kampus yang sekarang ini ditempati mengajar.
Setelah sarjana, untuk membantu biaya S2-nya, Zamli banyak membantu dosen untuk kegiatan penelitian. Zamli menjadi enumerato sebagai tenaga pengumpul data penelitian, kadang-kadang mengumpulkan data ke darah-daerah. Dari hasil inilah mereka sampai bisa membeli motor.
Masuk di Akper – Akbid Reformasi tahun 2007 diterima sebagai staf di perpustakaan. Selama kurang lebh setahun sebagai staf maka 2008 diangkat menjadi tenaga pengajar (dosen). Setahun kemudian tahun 2009 diangkat menjadi pembantu direktur III sampai sekarang ini.
Sejak menjabat sebagai Pudir 111, dia hanya berupaya bagaimana mahasiswa itu bisa meningkatkan kreativitasnya. Paling tidak bisa melakukan kerjasama dengan sekitar kampus.
Kegiatannya seperti memuat POS Yandu bersama, dengan melibatkan pihak kelurahan, masyarakat dan mahasiswa. Mahasiswa bisa memberikan bantuan penyuluhan dan pengumpulan data tentang kesehatan masyarakat. Bila menemukan penyakit yang sulit disembuhkan, maka disyaratkan untuk berobat ke Puskesmas setempat. Kegiatan ini sudah berjalan sejak 2012 sampai sekarang.
Ada juga yang lebih di Akper – Akbid Reformasi dibandingkan dengan kesehatan lainnya, yaitu mahasiswa sejak kuliah diberikan pelatihan untuk mengerjakan soal-soal ujian kompetensi serta trik untk menjawab soal-soal. Sehingga begitu studinya selesai diikutkan tri out di tingkat provinsi maupun pusat, seperti di Unismuh, Sandikarsa, Poltekes dan Yapma.(nasrullah)










