Apa yang terungkap dari eksperimen ini (dan lusinan ekaperimen lainnya) adalah cara kita menyaring informasi ketika informasi itu bertentangan dengan pendirian atau penilaian yang kita pegang teguh. Kita gunakan serangkaian manuver logika post hoc untuk membingkai kembali segala hal yang tidak menyenangkan bagi posisi kita semula. Kita pertanyakan keabsahan bukti tersebut, atau kredibilitas orang yang menemukannya, atau motif mereka, atau apa saja. Semakin banyak informasi yang muncul menentang perspektif kita, kian kreatif pula kita mencari pembenaran baru, dan semakin dalam pula kita tertanam dalam pandangan kita sebelumnya. Kecenderungan seperti itu dinamakan “cognitive dissonance” alias mencari-cari alasan.
Ketika pendirian seseorang bertentangan dengan bukti, orang boleh jadi justru akan semakin teguh memegang pendiriannya. Anda dapat melihat tanda-tanda cognitive dissonance itu dalam penyiapan atau setelah terjadinya Perang Irak. Laporan Chilcot menyampaikan kritik tajam terhadap pertimbangan hukum, kurangnya pengawasan dari kabinet dan perencanaan serta kebijakan pascaperang. Akan tetapi, mari kita berfokus pada bagaimana bukti primer yang digunakan untuk menjustifikasi perang–yakni keberadaan senjata pemusnah massal, SPM–dibingkai secara berseri.
Pada 24 September 2002, sebelum terjadinya konflik, Tony Blair menyampaikan pidato di mana dengan sangat tegas dia menyatakan: “Program senjata pemusnah massalnya [Saddam Hussein] dalam keadaan aktif, terperinci dan berkembang… dia memiliki rencana nyata untuk menggunakan senjata itu, yang dapat diaktifkan dalam waktu 45 menit…”
Masalah yang ditimbulkan oleh klaim itu adalah ternyata pasukan Saddam Hussein tidak menggunakan senjata pemusnah massal untuk menangkal pasukan Barat, dan pencarian awal terhadap SPM tersebut hasilnya nihil. Namun, sebagaimana ditunjukkan oleh psikolog sosial Jeff Stone dan Nicholas Fernandez dalam esai mereka tentang konflik Irak, Blair tidak mengubah pandangannya–dia membingkai ulang bukti yang ada. Dalam sebuah pidato di hadapan Majelis Rendah, dia memgatakan: “Secara harfiah ada ribuan lokasi… namun baru sekarang Kelompok Survei Irak dikerahkan sehingga orang-orang berdedikasi tinggi tersebut… akan dapat melaksanakan tugas mereka dengan layak… Saya tidak punya keraguan bahw mereka akan menemukan bukti sejelas mungkin tentang keberadaan SPM.”
Dengan demikian, bagi Blair, tidak adanya bukti senjata pemusnah massal tidak menunjukkan bahwa senjata itu benar-benar tidak ada. Akan tetapi, hal itu menunjukkan bahwa para tim pencari belum cukup melakukan pencarian. Lebih jauh lagi, dia malah semakin yakin akan keberadaan senjata pemusnah massal, tidak kurang dari itu.
Dua belas bulan kemudian, ketika Kelompok Survei Irak juga tidak dapat menemukan senjata tersebut, Blair masih belum dapat menerima bahwa SPM tidak ada di sana. Sebaliknya, dia mengubah lagi argumentasinya dan mengatakan dalam sebuah pidato bahwa “senjata tersebut bisa saja telah dipindahkan, senjata tersebut bisa saja telah disembunyikan, senjata terrsebut bisa saja telah dihancurkan”. Jadi sekarang, tidak adanya bukti senjata pemusnah massal di Irak bukan lagi karena pasukan belum punya waktu yang cukup untuk melakukan pencarian, atau karena tim pencari yang tidak memadai, tetapi karena pasukan Irak telah melenyapkan senjata pemusnah massal mereka.
Akan tetapi, cara berpendirian seperti itu lama-lama juga tidak dapat dipertahankan lagi. Seiring dengan pencarian yang terus berlanjut dalam keadaan putus asa, menjadi semakin jelas bahwa bukan hanya tidak ada SPM, namun tidak ada pula sisa-sisa atau bekas-bekasnya. Pasukan Irak tidak mungkin telah melenyapkannya.
Namun, sekarang Blair sampai kepada suatu justifikasi baru tentang keputusannya untuk menginvasi Irak. “Masalahnya adalah bahwa saya bisa meminta maaf atas informasi yang ternyata kemudian terbukti salah, tetapi saya tidak dapat meminta maaf, setidaknya dengan tulus, karena telah melengserkan Saddam,” katanya dalam sebuah pidato. “Dunia menjadi tempat yang lebih baik dengan Saddam berada di dalam penjara.”










