Larutan Cinta

INIPASTI.COM, Ontologi kehidupan kita sarat dengan nilai: penguasaan, perolehan, dan keunggulan. Pertautan dari berbagai pencapaian ini kita menyebutnya sebagai obat mencapai kesejahteraan. Semua elemen kehidupan manusia dalam kehidupan sosialnya kemudian ditandai dengan pertarungan meraih kesejahteraan hidup.

Atas nama kesejahteraan, jalan-jalan yang ditempuh bervariasi, beragam, bahkan perjalanan menuju pencapaian kesejahteraan itu melalaikan keadilan, melupakan keseimbangan, menerobos, menyakiti, melukai dengan berbagai cara. Atas nama perolehan kesejahteraan kita sering menjadi tuli, bisu dan buta atas hak-hak dasar orang lain. Kita tidak memiliki waktu lagi untuk sekedar memahami apa arti kehilangan, apa makna rasa sakit dan bagaimana penderitaan mendera sukma manusia.

Kita tidak sekedar belajar bagaimana merenggut dan menguasai ragam kesejahteraan hidup, tetapi kita juga diajarkan bagaimana unggul dalam penguasaan dan peralihan kesejahteraan. Mulai dari kita mengerti tentang kehidupan, rentetan pengajaran tentang kehidupan kesejahteraan segera menguasai pikiran dan kesadaran manusia. Mulai dari bagaimana mengalahkan, dengan membuka arena kompetisi untuk menunjukkan tingkat keunggulan. Dari sini, anak-anak yang tidak berdosa (anak-anak TK) itu mulai terfragmentasi, terklasifikasi. Ada yang teridentifikasi sebagai kelas A, kelas B dan seterusnya. Mulai terbentuk struktur sosial pada anak-anak yang masih bening itu. Mereka segera ter-streotype. Mulai dari identifikasi kelas, berlanjut ke sekolah, hingga perguruan tinggi, hidup kita penuh dengan label. Nilai kemanusiaan kita terkubur oleh keangkuhan kesejahteraan.

Baca Juga:  Perjalanan Kehidupan

Kuasa wacana kesejahteraan berhasil membonsai benih-benih cinta manusia. Kuasa kesejahteraan mendominasi warna warni kehidupan sosial. Epistemologi sekolah-sekolah kita, sangat kuat mengajari anak didiknya bagaimana teknik meminta, cara mengeksploitasi dan eksplorasi secara efisien dan efektif. Kita semua menjadi manusia yang memiliki keahlian dengan potensi otak kiri yang dahsyat. Umur produktif kita hanya dipakai untuk mengkalkulasi bagaimana terus mencapai, selalu mendapatkan, bagaimana mengeksploitasi, bagaimana mengumpulkan, bagaimana menguasai.

Baca Juga:  Negeri-Negeri yang Dijejali Ketamakan

Kita kehilangan rasa keadilan, kita mati rasa, tumpul cinta, akhirnya kehidupan sosial mengalami ketidakseimbangan. Mudah marah, gampang emosi, selalu disulut perasaan kebencian. Hanya cinta dan keadilan yang dapat mengembalikan keseimbangan. Karena cinta adalah mantra kehidupan yang paling sempurna, dan keadilan adalah sarana untuk mendistribusikan cinta. Sedangkan keseimbangan adalah alat yang mengatur proporsi keadilan dan cinta.

Keadilan dan keseimbangan membutuhkan netralitas, cinta membutuhkan ketulusan. Cinta yang berbalut ketulusan, akan dibumbui oleh keadilan dan keseimbangan, akan melahirkan gelora memberi tanpa meminta. Larutan cinta seperti ini akan menembus rongga yang paling sempit dan kecil, bisa melihat yang tidak nyata, bisa mengubah isak menjadi tawa. Mari kita mengubah epistemologi pencapaian kesejahteraan dengan melibatkan cinta, keadilan, dan keseimbangan.

Baca Juga:  Mengapa Hidup Tidak Abadi?

Baca juga: Keadilan dan Keseimbangan