Lawan Radikalisme, Ketua FKPT: Masyarakat Tak Boleh Terserang Virus Radikal

INIPASTI.COM, MAKASSAR — Ketua forum komunikasi pencegahan terorisme  (FKPT) Sulsel Dr Muammar Bakri mengulas tumbuhnya radikalisme yang mengarah pada aksi terorisme di tanah air.

Muammar bicara bagaimana mempersempit ruang kelompok radikal. Salah satu langkah yang dilakukan FKPT  Sulsel dengan memproteksi radikalisme agar tidak terlalu menyimpang.

Inline Ad

“Kegiatan FKPT lebih pada pencegahan agar kegiatan masyarakat tidak lagi terserang virus radikal. FKPT menyasar sejumlah elemen pemuda, tokoh dan lainnya,” ujar Muammar.

“Kita harus perkuat pada ideologi secara komunal seperti yang ada di NU, Muhammadiyah dan ormas lainnya,” sambung Muamar pada diskusi publik dengan tema ‘Lawan Radikalisme dengan Memperkuat Nilai Kearifan Lokal Masyarakat Sulsel’ di RM Torani Makassar, Sabtu (17/4).

Muammar mengutip sebuah ayat Al-Quran yang salah satu maknanya yakni ada ummat yang membajak agama untuk kepentingan mereka. Virus radikalisme sulit hilang karena otak manusia. “Untuk itu otak harus diprotek dari paham radikalisme dengan kearifan lokal,” jelasnya.

Baca Juga:  Devy Khaddafi Dapat Apresiasi dari Ahli PR

Ketua Perhimpunan Ummat Budha Yongris juga bicara soal agama dalam konteks perdamaian dan rahmat bagi sesama. Menurut Yongris, hal ini terjadi karena pemahaman agama yang salah.

Untuk itu harus pemahaman agama juga harus diperbaiki.”Banyak masalah bisa diselesaikan dengan agama sebab radikal itu urusan pribadi  yang salah jika menimbulkan ketakutan atau ancaman bagi orang lain. Ini yang jadi masalah,” ucap Yongris.

“Jadi yang patut dicegah adalah agar sifat radikal seseorang itu tidak menjadi teroris ini yang terus dicegah,” sambung Yongris.

Bukan hanya kecerdasan intelektual, tapi juga harus kecerdasan mental. “Untuk memcerdaskan sisi kehidupan, maka kita harus membangun ahlak yang benar,” terangnya.

Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sulsel Abdul Gafur Ibrahim mengemukakan selaku generasi muda perlu meningkatkan toleransi.

“Radikalisme juga muncul karena rendahnya pemahaman keagamaan kita, juga dipicu keadilan sosial ekonomi. Banyak yang tidak adil sehingga memunculkan ketimpangan,”ujar Gafur Ibrahim.

Baca Juga:  DPR Setujui Pembayaran Iuran BPJS Peserta PBI Rp26,77 Triliun

Soal ketahanan negara, pengamat Dr Arqam Azikin menyatakan radikalisme  itu sudah sejak lama dibahas. Bisa jika pemahaman agamanya sepotong sepotong, bisa karena ekonomi hingga soal. “Terorisme tak bisa tuntas karena tak pernah ada kerjasama dari lembaga yang kuat dan terstruktur,” jelasnya.

Masing-masing lembaga jalan sendiri, bahkan ada yang hanya memantau dan siap diperbantukan. Termasuk pembahasan di komisi I DPR RI sampai sekarang belum tuntas.

Arqam sarankan agar tak usah bicara radikalisme pada ormas NU dan Muhammadiyah sebab mekanisme perekrutan kadernya jelas.
“Yang perlu diajak diskusi yakni ormas atau kelompok yang kadernya mudah menjadi radikal,” terangnya.

Terkait peran partai politik islam dalam percegahan radikalisme, kata dia bukan hanya parpol islam, tapi hampir semua parpol tak punya visi yang jelas pencegahan radilalisme.

“Saat dewan turun kebawah, paling bicara perda hingga program infrastruktur, namun  harus selipkan soal radikalisme yang sumbunya ada di daerah bukan di Jakarta,”jelas Arqam.

Baca Juga:  Jelang Pergantian Tahun, Dinsos Makassar Gelar Operasi Gabungan

(Muh. Seilessy)

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.