Mbah Salami di Solo,  Penjual Baju Bekas Hingga Berusia Lanjut

INIPASTI.COM-SOLO – Sri Salami masih asyik menjahit tepian kain warna biru dengan tangannya. Padahal mendung sudah bergelayut di langit Kota Solo, sore itu, Selasa (28/1/2020).

“Nanti kalau sudah gerimis, dagangan saya baru dimasukkan ke plastik. Kadang kalau tiba-tiba hujan ya terpaksa basah semua,” kata Mbah Salami. Ringan saja dia ngomong. Nyaris tanpa beban, apalagi keluh kesah.

Inline Ad

Kain bekas yang dia jahit nantinya dijual sebagai kain lap. Mbah Salami memang hanya menjual pakaian-pakaian bekas, mulai dari seragam, topi, sarung dan jenis baju lainnya.

Nenek berusia (78  thn)  itu mengaku sudah berdagang baju bekas sejak tahun 1968 atau (52 thn) yang lalu. Tempat jualannya tak berubah hingga saat ini, yakni di Jalan Veteran, depan Bank BRI Syariah, Gajahan, Solo.

Baca Juga:  Pesawat Boeing 737-800 Jadi Andalan Baru Lion Air

Dia menggelar dagangannya setiap hari, mulai pukul 13.00 WIB hingga 17.00 WIB. Salami duduk di tanah kering dekat pohon yang telah ditebang.

“Dulu bangunan belakang saya ini sekolah. Sebelum BRI ini dipakai dealer kendaraan,” ujar dia memberikan kesaksian, menunjukkan bahwa dia sudah lama menjadi bagian dari kawasan tersebut.

Baju bekas itu dia peroleh dari orang-orang yang menjual kepadanya. Satu plastik berisi hingga 20 potong pakaian dia beli seharga Rp 20 ribu.

“Kalau jualnya ya ada yang Rp 3 ribu, Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu,” ujar warga Waringinrejo, Desa Cemani, Kecamatan Grogol, Sukoharjo itu.

Namun, kata Salami, sekarang jualannya jarang sekali laku. Bahkan di rumahnya masih ada 10 bungkus plastik berisi pakaian bekas yang belum dia jual.

Baca Juga:  Benarkah Italia Mengabaikan Pasien Coronavirus Lansia?

“Kadang saya menggendong pakaian 2 minggu tak ada yang laku. Ada seragam yang masih bagus juga tidak laku. Jadinya saya potongi jadi lap, saya jual Rp 3 ribu saat mampir ke pasar,” kata dia.

Saat ini Salami tinggal di rumah adiknya di Waringinrejo. Dia selama ini hidup tak berkeluarga sejak usia (25 thn). Pernah dua kali menikah, namun Salami tidak memiliki anak.

“Saya janda sejak usia (25 thn). Pernah melahirkan dari suami pertama, tapi anak saya meninggal di usia tiga hari. Setelah janda, saya pilih membantu ibu saya bekerja menyekolahkan adik-adik,” katanya (syakhruddin).

 

Bottom ad

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.