Oleh: Wahyudi, S.TP., M. Eng | Fungsional Perencana Ahli Muda
INIPASTI.COM, ANALISIS — Badan Pusat Statistik (BPS) akhirnya merilis hasil Sensus Penduduk Tahun 2020 atau yang dikenal dengan SP2020 pada pekan ketiga Januari 2021. Dikabarkan jumlah penduduk Indonesia pada September 2020 mencapai 270,20 juta jiwa atau bertambah 32,56 juta dibandingkan tahun 2010 silam.
Uniknya, pada rilis kali ini BPS mengklasifikasikan komposisi penduduk menjadi 6 bagian. Pertama, Generasi Pre-Boomer (lahir sebelum tahun 1945), perkiraan usia sekarang > 75 tahun. Kedua, Generasi Baby Boomer atau yang lahir tahun 1946-1964, perkiraan usia saat ini 56-74 tahun. Ketiga, Generasi X atau lahir tahun 1965-1980 yang perkiraan usianya saat ini 40 hingga 45 tahun. Keempat, Generasi Y (Milenial) yang lahir tahun 1981-1996, perkiraan usia saat ini 24 s.d 39 tahun. Kelima, Generasi Z yang lahir tahun 1997-2012, perkiraan usia saat ini 8-23 tahun, dan Keenam, Post Generasi Z tau lahir tahun 2013 sampai saat ini.
Berdasarkan 6 katergori tersebut, proporsi Generasi Z sebanyak 27,94% dari total populasi dan Generasi Y atau yang lebih dikenal dengan Gen Milenial sebanyak 25,87% atau jika ditotal lebih dari 53% dari jumlah penduduk Indonesia di dominasi generasi ini. Kedua gerasi ini merupakan usia produktif yang diharapkan kedepan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi melalui revolusi industri 4.0.
Besarnya bonus demografi bagi generasi ini rupanya mampu dibaca dengan baik oleh Bapak Presiden Joko Widodo, melalui roadmap yang disebut Making Indonesia 4.0, Jokowi telah membentuk Komite Industri Nasional atau yang lebih popular dikenal dengan KINAS yang anggotanya berasal dari lintas Kementerian/Lembaga, termasuk Kementerian Pertanian. Ada 5 sektor utama yang dipilih sebagai sektor fokus untuk Making Indonesia 4.0. Kelima sektor tersebut adalah: Makanan dan Minuman, Tekstil dan Busana, Otomotif, elektronik, dan Kimia.
A.T Keamey, World Bank, dan BPS menyatakan bahwa jika dilihat dari matriks effort dan impact yang ditimbulkan, maka sektor Pertanian dengan hasilnya (makanan dan minuman) memiliki prospek yang paling tinggi dibandingkan dengan sektor lainnya. Oleh karenanya sektor ini akan menjadi penentu utama bagi peningkatan Produk Domestik Bruto dan ditargetkan akan menjadi kekuatan besar makanan dan minuman di pasar ASEAN.
Tantangan Bonus Demografi Gen Z dan Gen Milenial pada Sektor Pertanian
Generasi Z dan Y merupakan gen Adaftif, Agile, dan ulet utamanya dalam adopsi teknologi, bukan hanya sebagai consumer tetapi juga creator product. Generasi ini gemar untuk membuat produk-produk disruptive melalui talent factory berbasis teknologi tepat guna yang memungkinkan digunakan manusia di masa depan, jadi wajar jika banyak generasi lama (X dan baby boomer) yang tidak mampu membaca pola pikir mereka karena pada dimensi dan gelombang yang berbeda.
Oleh sebab itu, meningkatnya dua generasi ini harus direspon cepat oleh pemerintah dengan menyediakan lapangan perkerjaan yang mampu menyerap tenaga kerja optimal, salah satunya adalah sektor pertanian.
Kita tahu bahwa generasi petani saat ini masih di dominasi oleh usia diatas 45 tahun. BPS berdasarkan Data Survey Antar Sensus (SUTAS) Tahun 2018 telah merilis bahwa jumlah petani tahun tersebut sejumlah 33,48 juta, terdiri dari petani usia <25 tahun sebanyak 885 ribu (2,64%), usia 25-34 tahun sebanyak 4,1 juta (12,26%), usia 35-44 tahun sebanyak 8, 2 juta (24,39%), usia 45-54 tahun sejumlah 9,2 juta (27%), usia 55-64 tahun sejumlah 6,2 juta (20,76%), dan masih ada petani usia diatas 65 tahun sejumlah 4,2 juta atau 12,53%. Dari data tersebut terlihat bahwa jumlah in dan out petani usia <25 tahun dengan petani usia yang memasuki purna (usia >65 tahun) jauh tidak seimbang. Dengan asumsi pertumbuhan petani muda dianggap tetap (88 ribu/tahun) maka diperkirakan jumlah petani pada tahun 2030 berkurang menjadi 24 juta dan pada tahun 2040 hanya 8,5 juta.
Oleh karenannya, agar jumlah petani saat ini s.d 2040 kedepan tetap terjaga maka dibutuhkan penambahan petani sebesar 10,2 juta atau 2 juta petani milenial usia <25 tahun s.d 34 tahun selama 4 tahun kedepan. Jumlah petani milenial saatini hanya berjumlah 4,9 juta petani, dengan skenario diatas maka jumlah petani pada tahun 2021 hingga 2024 akan berjumlah 5,4 hingga 6,9 juta petani.
Langkah Yang Harus diambil
Perubahan komposisi generasi penduduk dengan segala kelebihan dan kekuranganya pada era pengembangan pertanian digital 4.0 rupanya berimplikasi terhadap berbagai sendi seperti meningkatnya konektivitas dari mesin ke mesin, kesin ke cloud, dan cloud ke cloud sehingga memudahkan dalam peningkatan produksi dan produktivitas komoditas pertanian. Berbagai inovasi telah dicetuskan oleh anak-anak muda bangsa dalam pengembangan pertanian 4.0. Di bidang pemasaran misalnya, kehadiran e-commerce seperti Rego Pantes, Sayurbox, Etanne, Limakilo, dan Tanihub telah banyak digunakan untuk meningkatkan efisiensi dengan memangkas rantai pasok dari produsen ke konsumen, sehingga dirasa lebih efektif dan efisien.
Sejatinya banyaknya layanan digital yang sudah mulai berkembang sedikit banyak membantu dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani. Kehadiran Rego Pantes misalnya, petani memiliki posisi daya tawar yang tinggi dalam menentukan harga kepada konsumen dan mendapatkan harga terbaik, konsumen-pun merasa diuntungkan karena memperoleh barang yang diinginkan, akses terhadap pangan menjadi lebih mudah dan tentu dengan harga yang wajar. Ini hanya case saja, Bayangkan jika saat ini ada ratusan start-up di bidang pertanian maka tentu akan sangat signifikan bagi pembangunan pertanian dan ketahanan pangan nasional.
Oleh karenanya, dalam merespon besarnya potensi Gen X dan Y saat ini agar mampu dimanfaatkan untuk pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian, Kementerian Pertanian perlu melakukan Langkah konkret, diantaranya:
Tani Milenial Talent
Masing-masing wilayah di Indonesia memiliki karakteristik pertanian yang berbeda-beda. Untuk memuncukan dan mendorong pengembangan talent-talent petani milenial di, maka petani milenial yang jumlahnya saat ini mencapai 4,9 juta perlu diadakan youth agripreneur, outcome yang ingin diraih adalah untuk melihat best practice dari masing-masing usaha atau startup pertanian yang telah dilakukan saat ini dan mencoba untuk duplikasi ke wilayah lain.
Tani Milenial Talent ini dapat dikembangkan melalui Duta Petani Milenial yang tersebar di 34 provinsi dan kabupaten/kota seluruh Indonesia, yang selama masa kepemimpinan Menteri Syahrul Yasin Limpo telah dibentuk.
Magang ke Luar Negeri
Suka tidak suka, kita harus menyadari bahwa keterbatasan pemanfaatan teknologi inovasi dalam bidang pertanian masih menjadi PR besar bangsa, oleh karenanya Pemerintah melalui Kementerian Pertanian perlu merancang dengan baik magang petani ke lintas negara, misalnya ke negara Jepang, Vietnam, Thailand, dan lain-lain. Ini dilakukan semata-mata untuk transfer dan adopsi teknologi pertanian agar kelak kita mampu bersaing dengan negara lain.
AWR Business Incubating
Kementerian Pertanian pada tanggal 4 Februari 2020 telah meluncurkan Agriculture War Room atau yang lebih dikenal dengan nama AWR. AWR ini merupakan tool yang berisikan program-program utama Kementan sekaligus sebagai pusat komando untuk pelaksanaan monitoring dan acuan pengambilan kebijakan pertanian. Agar pemanfaatan AWR ini lebih efektif dan Agile, maka kedepan fungsi room ini harus ditambah dengan membuat Pusat Inkubasi Bisnis dengan fokus pada petani milenial. Dalam program inkubasi ini, talent-talent generasi milenial akan dibuat adaptif terhadap segala jenis perubahan dan perkembangan inovasi dari luar dan kemudian mulai diadopsi untuk kebutuhan birokrasi, bukan hanya itu saja, dalam program ini talent juga diberikan ruang untuk memunculkan bakat dengan berbagai kegiatan inkubasi.
Fokus pada Inovasi Pertanian 4.0 menuju Inovasi 5.0.
Fokus pengembangan bisnis pertanian untuk petani Gen Z dan Y (milenial) kedepan harus diselaraskan dengan perkembangan teknologi masa depan sehingga mampu adaftif terdahap kebutuhan user/konsumen. Oleh sebab itu, setidaknya ada 3 program yang perlu dilakukan. Pertama, Adaptasi pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung tujuan bisnis utamanya bagi generasi Z dan Y. Kedua, Adaptasi Perkembangan Inovasi Start-Up berupa kegiatan innovation camp. Dalam kegiatan ini talent akan dibekali berbagai perkembangan start-up bidang pertanian untuk selanjutnya diadaptasi untuk menyiapkan perangkat open source dalam mendukung kemunculan start-up kelompok binaan/Gapoktan binaan pemerintah atau mendorong kerja sama Gapoktan dengan Start-up. Ketiga, Adaptasi perubahan teknologi 5.0 untuk mendukung pengembangan bisnis masa depan. Dalam kegiatan ini talent akan dibekali kemungkinan perkembangan digital dari 4.0 menjadi 5.0 untuk kemudian dapat diadopsi untuk meningkatkan performa obisnis petani milenial.
Catatan: Tulisan ini merupakan pendapat dari penulis pribadi, dan bukan mewakili institusi resmi.










