Mengapa Hidup Tidak Abadi?

Jika doa anda terus menerus dikabulkan oleh yang maha memberi, permintaan anda selalu dipenuhi oleh yang maha pengasih, dan keinginan anda senantiasa tercapai, berhentilah sejenak, mulailah bertanya apakah semua perolehan yang anda raih adalah sebuah ujian atau keridhaan. Karena kehidupan adalah perputaran, ada kalanya mendung, ada waktunya terik, ada saatnya gema petir menghalau panas, dan ada musim di mana bumi dibasahi hujan, lalu sungai-sungai meluapkan air, mengaruskan benda-benda, memunculkan kesedihan dan mencurahkan air mata.

Kehidupan niscaya seperti jarum jam yang terus berputar, menemui angka yang berbeda-beda. Naik turun, berputar mengelilingi, seluruh angka yang termuat di dalamnya. Jarum-jarum mengelilingi sesuai arahnya, tak ada yang mampu membeli kembali waktu yang telah dilewati. Sang waktu tak memiliki kompromi untuk ditarik ulang. Itulah alasan paling kuat, mengapa kita harus menghargai waktu.

Kalau anda terus mengalami keberhasilan demi keberhasilan, semua yang anda inginkan selalu terpenuhi, yang engkau tidak harapkan sekalipun, datang untuk memenuhi kelengkapan kebahagiaanmu, itu adalah pertanda Tuhan tidak sedang bermesraan bersamamu. Tuhan memberimu yang engkau tidak minta sekalipun adalah petunjuk, bahwa Tuhan sedang menguji daya tahanmu, Tuhan lagi memberi pancingan untuk mendeteksi kemampuan hambanya mengatur nafsu kehidupan. Kalau hambanya gagal mengatur irama birahi kehidupan, maka Tuhanmu akan segera menurunkan ujian bahkan azab untuk hambanya.

Baca Juga:  Negeri-Negeri yang Dijejali Ketamakan

Kepada siapa ujian dan azab itu akan ditimpakan? Kepada mereka yang serakah, gelojoh dan kemaruk terhadap nikmat Allah. Orang-orang yang gemar temaah, selalu meraup, bakhil, sulit membagi. Dalam jiwanya hanya ada prinsip penguasaan. Tangan dan jemari kakinya terampil mengumpulkan, otak dan pikirannya tersumbat oleh bagaimana memiliki sebanyak-banyaknya. Ia hanya mempelajari matematika tentang pertambahan dan perkalian, mereka tuna-aksara tentang pembagian. Matanya buta pada kenyataan alamiah, bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah keseimbangan. Secara sederhana, keseimbangan adalah kemampuan menjaga equilibrium antara poros kiri dan kanan, dunia dan akhirat, mengatur kesepadanan antara diri kita dengan orang lain, memastikan keserasian dan proporsionalitas dalam lingkungan kita, kesetimpalan dan keharmonisan dalam interaksi dan relasi antara sesama.

Baca Juga:  Perjalanan Kehidupan

Kalau anda diberkahi untuk menikmati perjalanan hidup apakah melalui lintasan politik atau kesejahteraan ekonomi, maka segeralah berfikir tentang orang-orang yang belum beruntung merasakan alur kehidupan seperti anda. Jangan justru semakin lihai melipatgandakan kenikmatan itu, bahkan begitu lupanya pada orang lain, para penguasa politik dan ekonomi rela saling mengorbankan, membiarkan orang lain semakin nestapa, hanya karena ingin mengkapitalisasi kenikmatan dan kekuasaan dirinya.

Orang-orang yang anti akan keseimbangan sosial, mereka akan segera bertemu dengan krisis keyakinan, bahwa hidup ini sesungguhnya amat singkat, begitu singkatnya tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang tahu sampai kapan ia akan hidup. Keserakahanlah yang menyebabkan manusia memandang hidup ini seakan-akan abadi. Bagaimana mematikan libido keserakahan itu? Isi hati, jiwa dan pikiran mereka dengan kesadaran bahwa tidak ada keabadian dalam hidup. Karena itu mari menjaga harmoni kehidupan, jangan mencederai dengan alasan apapun. Kita mesti belajar tidak membiarkan diri kita untuk menghabiskan kehidupan untuk membangun pertentangan dan perbedaan yang tidak substantif.

Baca Juga:  Kebengisan Kekuasaan dan Punggawa Pengetahuan

Biarkan kehidupan dialirkan oleh rasa cinta, menutup rapat lubang-lubang kebencian.