Merespon Gerakan Transformasi Wakaf Uang

Oleh: Dr. H. Ade Mujhiyat, S.Ag., M.Pd.

INIPASTI.COM, ANALISIS — Pemerintah telah meresmikan Gerakan Nasional Wakaf Uang dan Brand Ekonomi Syariah pada Senin (25/1/2021). Peresmian yang  dilakukan langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara Jakarta tersebut dihadiri Wakil Presiden Ma’ruf Amin, sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga para kepala daerah.

Inline Ad

Menurut Presiden Jokowi, potensi wakaf di Indonesia sangat besar, baik wakaf benda tidak bergerak maupun benda bergerak, termasuk wakaf uang. Potensi aset wakaf setiap tahunnya bisa mencapai angka Rp 2.000 triliun. Sementara, potensi wakaf uang bisa menembus angka Rp 188 triliun. Angka yang sangat fantastis.

Pertanyaannya, bagai mana kita merespon gerakan transformasi wakaf uang yang telah dicanangkan itu? Manfaat apa yang bisa dirasakan rakyat Indonesia dengan adanya gerakan transformasi wakaf uang tersebut?

Tulisan ini hendak mengulas bagaimana strategi merespon gerakan transformasi wakaf uang dan pemanfaatannya bagi kehidupan sosial masyarakat. Khususnya terkait dengan bagaimana wakaf uang bisa mengentaskan kemiskinan dan membangkitkan ekonomi mikro di tengah pandemi Covid-19 yang masih melanda.

Selama ini, wakaf hanya dimanfaatkan sebatas untuk tujuan ibadah. Yakni hanya untuk masjid, madrasah, dan makam (3M). Wakaf  belum menyentuh rasa kepedulian dan solidaritas sosial untuk mengatasi kemiskinan dan ketimpangan sosial.

Gerakan Nasional Wakaf Uang sejatinya harus menjadi bagian penting yang tidak hanya sekedar meningkatkan awareness, kepedulian, literasi dan edukasi masyarakat terhadap ekonomi dan keuangan syariah, namun lebih jauh lagi harus mampu mengentaskan kemiskinan, ketimpangan sosial dan membangkitkan ekonomi ummat. Pada Pasal 5 Undang-undang nomor 41 tahun 2004 tentang Wakaf dijelaskan bahwa wakaf berfungsi mewujudkan potensi dan manfaat ekonomis harta benda wakaf untuk kepentingan ibadah dan untuk memajukan kesejahteraan umum.

Baca Juga:  E-KTP dan Partai Golkar Menyandera Setya Novanto

Lebih jauh lagi Gerakan Nasional Wakaf Uang harus menjadi momentum transformasi pelaksanaan wakaf yang lebih luas dan modern. Sebagaimana amanat Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf yang menjelaskan bahwa harta benda wakaf diperluas tidak hanya benda tidak bergerak seperti tanah dan bangunan, tetapi juga meliputi benda bergerak berupa uang dan benda bergerak selain uang seperti kendaraan, mesin, logam mulia, dan surat berharga syariah. Pasal 16 Ayat (3) Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf menjelaskan, bahwa benda bergerak adalah harta benda yang tidak bisa habis karena dikonsumsi, meliputi: uang, logam mulia, surat berharga, kendaraan, hak atas kekayaan intelektual, hak sewa, dan benda bergerak lain sesuai dengan ketentuan syariah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia harus menjadi contoh pengelolaan wakaf yang transparan, profesional, kredibel, bisa dipercaya, dan memiliki dampak produktif bagi kesejahteraan dan pemberdayaan ekonomi umat. Sehingga wakaf uang bisa memberikan pengaruh signifikan pada upaya menggerakkan ekonomi nasional, khususnya di sektor usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah.

Konsep ekonomi syariah seperti wakaf uang ini masih memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Sebab, di negara-negara lain seperti Jepang, Thailand, Inggris, bahkan Amerika Serikat telah mengembangkan konsep ekonomi syariah untuk mendorong percepatan dan akselerasi pembangunannya. Maka, sudah sepatutnya jika Indonesia pun harus mempersiapkan diri  untuk menjadi pusat rujukan pengembangan ekonomi syariah global.

Pengembangan ekonomi syariah seperti wakaf sejatinya tidak cukup hanya didukung dengan produktivitas dan aktivitas sektor riil, tetapi juga aktivitas yang bersifat sosial. Di sejumlah negara, aktivitas yang bersifat sosial tersebut sudah dikembangkan, baik dalam bentuk wakaf maupun zakat, yang digunakan untuk pembangunan, bahkan berkontribusi pada ekonomi.

Baca Juga:  Issue Pribumi Melawan Kolonialisasi Ekonomi dalam Pilpres 2019

Sebagai contoh, Arab Saudi telah memanfaatkan wakaf produktif untuk membangun Zamzam Tower. Bahrain memanfaatkan wakaf untuk bantuan sosial kepada keluarga terdampak Covid-19. Bahkan di Singapura, wakaf dikembangkan untuk mengelola apartemen. Maka di Indonesia seharusnya tidak tertinggal, sebab potensinya besar. Dari sisi demand, Indonesia memiliki 246 juta penduduk muslim.

5 Langkah Strategis

Untuk dapat meningkatkan kegiatan wakaf uang di Indonesia, menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng (08/10/2020), ada 5 langkah yang harus dilakukan. Pertama, harus ada perubahan pola pikir dan literasi. Saat ini pengetahuan terkait wakaf sangat terbatas, padahal wakaf bisa berbentuk uang tunai dengan nominal yang kecil.

Kedua, pentinganya inovasi produk wakaf. Wakaf tidak hanya bersifat sosial, tetapi wakaf bisa digunakan untuk pembiayaan komersil yang bersifat sosial, yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan berbagai fasilitas.

Ketiga, penguatan ekositem halal value chain. Dalam hal ini BI telah menggelar program infratani dan program pengelolaan industri kelapa terpadu. Ada juga program penguatan kapasitas produksi pelaku sekonomi syariah. Melalui program-program tersebut, sudah terbentuk 300 unit bisnis pesantren dan UMKM syariah. Selanjutnya, BI akan mengintegrasikannya melalui himpunan ekonomi bisnis pesantren. Ekosistem halal value chain ini diharapkan bisa menjadi objek kredibel.

Keempat, pentingnya transparansi pada kegiatan wakaf, dari penyaluran hingga penggunaanya, sehingga kepercayaan masyarakat akan terjaga. Kelima, pentingnya digitalisasi dalam pengembangan wakaf. Terutama di masa pandemi Covid-19 sekarang, maka ini menjadi solusi yang sangat mujarab.

Dengan diresmikannya wakaf uang oleh Presiden RI, maka ini semakin mempertegas implementasi Undang-undang nomor 41 tahun 2004. Ini menegaskan pula bahwa wakaf uang di Indonesia, selain telah mempunyai landasan legalitas hukum Hukum Islam (fikih) maupun Tata Hukum Nasional, tetapi juga telah mendapat dukungan penuh dari pemerintah dalam pelaksanannya.

Baca Juga:  BMKG: Siklus hujan ekstrem makin cepat

Hal ini tentu saja akan membuka lebar potensi yang cukup besar untuk memaksimalkan sumber dana wakaf. Wakaf Uang dapat dibuat dalam berbagai macam nominal sesuai dengan kesanggupan segmen muslim yang dituju, mulai dari Rp. 5.000, Rp.10.000, Rp.50.000, Rp.100.000, dan seterusnya.

Melalui pencananga Gerakan Nasional Wakaf Uang ini, kita berharap semakin banyak orang yang merespon dan bisa berwakaf.  Juga semakin terbuka peluang bagi aset wakaf untuk memasuki berbagai macam usaha investasi, seperti syirkah, mudharabah, penguatan modal UKM dan lainnya.

Pada akhirnya, semakin banyak dana wakaf yang dihimpun, maka diharapkan akan semakin banyak pula permasalahan umat yang bisa diselesaikan, baik masalah sosial, kemiskinan, pendidikan, keagamaan, keterpurukan ekonomi akibat pandemic Covid-19 dan lain-lain. Sehingga, semakin banyak pula kebaikan dan pahala yang terus mengalir kepada pihak yang berwakaf. Wallahu a’lam…

//Penulis adalah Pengurus Pusat IKADI

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.