INIPASTI.COM, MAKASSAR – Wajahnya langsung berubah sedih karena haru. Matanya tampak berkaca-kaca. Suaranya mendadak tertahan dan terdengar serak, ketika ia menjelaskan perihal sebab keinginan kuatnya untuk naik haji. Air matanya pun tak tertahankan menceritakan kerinduannya ingin menatap Ka’bah secara langsung. Ia ingin sekali bersujud kepada Sang Maha Pencipta langsung di hadapan Baitullah.
“Dinding-dindingi nyawaku nak punna ku u’rangi,” ujar nenek 93 tahun dengan dialek Makassar menarasikan perasaannya mengingat perjuangannya mengumpulkan uang recehan demi recehan hanya demi mewujudkan mimpinya itu.
Nenek itu bernama lengkap Ince Kebo Lallo. Sebelum menjanda karena suaminya, Ince Abidullah meninggal 40 tahun lalu, ia telah mengumpulkan rupiah dari beberapa pekerjaannya. Ia bahkan tak ingat lagi tahun berapa tepatnya ia mulai mengumpulkan recehan demi recehan. Ia hanya mengatakan, sudah berpuluh-puluh tahun lamanya.
“Dari hasil sunat perempuan secara tradisional, dari hasil buat Ka’do Minnyya’ (makanan tradisional Bugis-Makassar,red), dan dari santri-santri mengaji di rumah saya,” sebutnya menguraikan mata pencahariannya yang menurut tetangganya tidaklah seberapa hasil dari itu semua.
Warga Jalan Barukang II, Makassar ini mengaku tak membebani santri-santri untuk membayar. Terkadang ada yang memberinya Rp.10ribu, Rp.5ribu, bahkan ada pula yang sama sekali tidak membayar. Namun, sekali lagi ia tidak menuntut karena ia mengetahui bahwa ekonomi santrinya itu juga sulit.
Barulah di tahun 2009, uang yang ia kumpulkan sudah mencapai kurang lebih Rp.30juta. Ibu 7 orang anak itu pun langsung mendaftarkan diri ke Kementerian Agama (Kemenag) Kota Makassar sebagai calon jemaah haji (CJH).
“La Haula wa la Kuwwata Illa Billah,” penggalan ayat suci itulah yang menjadi motivasinya bahwa Allah selalu ada baginya yang sebagai hamba yang lemah.
Tahun demi tahun ia menunggu panggilan Kemenag, sampai ia pun sempat lupa dan sudah tak berharap lebih. Tiba saatnya di tahun 2017 ini, nama nenek kelahiran Pangkep, 31 Desember 1923 ini muncul sebagai CJH yang berhak melunasi ongkos naik haji (ONH) uangnya tidak cukup. Tapi, sekali lagi ia bersyukur karena sekarang ia sudah tidak berjuang sendiri lagi. Anak-anaknya pun turut membantu pelunasan ONH-nya. “Ada yang beri Rp.6juta, ada yang Rp.7juta,” ujarnya.
Ia pun telah berada di Madinah tepat hari ini, Rabu, 3 Agustus 2017 dan menjadi Jemaah Calon Haji (JCH) Tertua dari Kota Makassar. Ia tergabung bersama 449 JCH lainnya di Kloter 9 Embarkasi Makassar. Ia kini telah melakukan ibadah Arbain di Masjid Nabawi sebelum akhirnya ke Mekkah. Tujuannya hanya satu, menyempurnakan rukun agamanya sebagai seorang muslim. (Sule)










