Pandangan Terhadap Pemikiran Gustavo Esteva Tentang Development

Oleh: Wahyudi | Mahasiswa Doktoral Development Study Universitas Hasanuddin

INIPASTI.COM, ANALISIS — Kata Development atau Pembangunan tentu tidak asing di telinga kita, sejak di bangku SD hingga universitas kata ini selalu menjadi salah satu topik utama dalam pengajaran. Kata pembangunan lebih meng-Indonesia sejak Presiden Soeharto pada tahun 1983 diangkat menjadi Bapak Pembangunan sebagai apresiasi atas keberhasilannya dalam membangun Indonesia melalui Pembangunan Lima Tahun atau lebih dikenal dengan Pelita. Pertanyaannya, apakah model pembangunan yang kita pahami selama ini sudah benar pada jalurnya? Bagaimana pendapat ahli utamanya Gustavo Esteva dalam mengartikulasikan “Development” ini?

Inline Ad

Tulisan ini bermaksud untuk mengulas tentang asal usul pembangunan, pendapat substansi dari ahli (utamanya Gustavo Esteva), dan mencoba memberikan kritik atau pandangan atas pemikiran tersebut.

Pendahuluan

Kata pembangunan atau development muncul pada era Presiden AS, Harry S. Truman pada tahun 1949. Paska berakhirnya perang dunia II, negara-negara bekas jajahan Amerika dan Eropa mengalami ketertinggalan akibat terkurasnya semua sumberdaya yang ada, untuk mengembalikan kondisi tersebut, Truman bersedia untuk melakukan perbaikan dan pertumbuhan daerah tertinggal untuk memperbaiki dan meningkatkan kemajuan ilmiah dan kemajuan industri. Kebijakan Truman ini kemudian oleh para filosof dikatakan sebagai upaya “Penebusan Dosa” dari negara penjajah kepada negara jajahannya.

Melalui kebijakan tersebut, Amerika dan sekutunya mulai melancarkan paham dan ideologi yang disebarkan ke seluruh negara melalui program pembangunan, yang sejatinya agenda ini merupakan propaganda untuk melanjutkan penjajahan melalui kata “Development”. Oleh karenanya, perlu dipahami bahwa “Development” yang muncul pada era ini bukan hanya semata-mata kebijakan untuk merekonstruksi ketertinggalan negara-negara jajahannya, namun juga sebagai pertarungan ideologi antara AS dan sekutu yang menganut paham kapitalisme dengan negara sosialis, dengan kata lain, “Development” merupakan bungkus baru dari paham kapitalisme.

Tentu saja, agar konsep development ini bisa dengan cepat berkembang dan menjadi “ideologi” baru di seluruh dunia, maka dijadikan kajian ilmu pengetahuan di universitas terkemuka di Amerika, Eropa, dan negara sekutu lainnya agar kemudian menjadi bahan rujukan kebijakan bagi kaum intelektual, teknokrat, Lembaga-lembaga kemanusiaan, bahkan Lembaga donor internasional sekelas World Bank dan International Monetary Fund (IMF) untuk memuluskan paradigma pembangunan.

Baca Juga:  Unhas Bantu Chaerul Montir Pembuat Pesawat Terbang Asal Pinrang

Substansi Pemikiran Filosofis Dari Esteva Tentang Pembangunan

Konsepsi Development berkembang di seluruh dunia karena banyak negara-negara Dunia Ketiga seperti India, Bangladesh, Negara Afrika, dan Amerika Latin di identikkan dengan masalah kemiskinan, korupsi dan sederat permasalahan lainya yang menyeret negara tersebut kepada jurang keterbelakangan, hingga akhirnya mereka berlomba-lomba untuk mengimplementasikan konsepsi development atau modernisasi melalui perjanjian atau kesepakatan internasional. Akibatnya, development atau pembangunan atau modernisasi hanya menguntungkan bagi negara-negara maju dan menjadi melapetaka bagi negara-negara yang tertinggal.

Kritik dan Kecamatan terhadap paradigma “Development” terus bermunculan. Gustavo Esteva (1992) menyatakan bahwa keterbelakangan Dunia Ketiga diakibatkan oleh proses penjajahan dan eksploitasi sumber daya alam. Pembangunan dengan tolak ukur yang dirumuskan oleh negara maju tersebut dalam penerapannya tidak sesuai dengan kondisi dan dinamika lokal karena pembangunan yang diusung hanya mengedepankan dari pertumbuhan ekonomi, sementara keadilan dan keberlanjutan yang diharapkan oleh masyarakat luas tidak diperhitungkan, artinya, pembangunan yang dinyatakan dalam angka-angka tidak dapat dijadikan sebagai patokan untuk menggambarkan pemerataan yang diharapkan oleh sebuah negara.

Substansi Kritik Dari Esteva Tentang Diskursus Pembangunan Yang Berjalan Selama Ini

Pemikiran Gustavo pada intinya adalah menolak teori development yang selalu menjadi pedoman sebuah negara dalam melakukan pembangunan di negaranya. Pada dasarnya menurut Gustavo strategi dan konsep pembangunan tidak dapat digeneralisir dan diterapkan pada suatu negara tanpa mengetahui latar belakang sejarah negara, latar belakang sosial budaya, dan latar belakang ekonomi suatu negara yang akan melakukan proses pembangunan. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka penulis merangkum beberapa pandangan Gustavo terkait Development:

Development atau Pembangunan adalah kondisi yang tidak bermartabat yang akan menimbulkan keterbelakangan.
Development hanya berpusat pada manusia dengan cara mengeksploitasi sumber daya alam guna mencapai kemakmuran generasi masa kini.
Teori pembangunan secara tidak langsung bertujuan untuk mengendalikan dan menguasai pemikiran-pemikiran negara berkembang.

Baca Juga:  Ada Apa di Balik Majunya Agus Yudhoyono?

Pembangunan dinilai hanya akan membuat negara berkembang semakin terpuruk dan miskin, karena pembangunan di negara barat tidak dapat diterapkan secara serta merta ke negara berkembang
Teori development dianggap menciptakan garis-garis kesenjangan baru antara Negara Maju dengan Negara Berkembang, di sini timbul pemikiran bahwa negara berkembang pada akhirnya merasa dirugikan dan bahkan dieksploitasi. Selain itu, dari kondisi ini sangat memungkinkan adanya praktik-praktik kolonialisme pada negara-negara berkembang tersebut. Contoh : Lumbung sumber daya alam negara berkembang yang dikuras oleh negara-negara maju dengan berkedok pembangunan.

Satu hal yang sering terlupa dalam teori development adalah tidak selamanya pembangunan dari atas dan diukur dari pertumbuhan eokonomi semata. Pembangunan juga dapat dilakukan dari bawah dengan pemberdayaan lokal, penguatan kapasitas dalam membangun masyarakat dan daerahnya. Oleh karena itu, Gustavo Esteva berusaha menawarkan solusi baru dari pembangunan, yaitu mendengarkan suara negara-negara dunia ketiga/negara pinggiran yang selama ini hanya di eksploitasi. Konsep ini bukan untuk menghentikan pembangunan yang terjadi, melainkan merubah metode pembangunan agar tidak berlandaskan pada pertumbuhan semata, namun keadilan merata dan berlandaskan pluralisme tatanan sosial sosial budaya lokal.

Kritik Penulis Terhadap Tulisan Esteva

Pada dasarnya, Tulisan Gustavo Esteva merupakan kebalikan dari teori Development, lebih tepatnya Esteva merupakaan anti-development. Ia menilai bahwa pemikiran development penuh dengan konsep yang cacat dan berbahaya, penuh dengan tekanan negara barat dan homogenitas. Dan atas nama pembangunan, pengembangan neokolonialisme terjadi di beberapa negara dunia ketiga.

Pada dasarnya, Penulis sependapat dengan tulisan esteva, namun demikian, ada beberapa kelemahan pemikiran yang dikemukakan. Petama, Esteva belum mampu memberikan alternatif solusi riil yang mampu menggantikan praktik-praktik pembangunan baru, ia lebih banyak memberikan solusi pada tataran pengetahuan masyarat dan aspek kebudayaan masyarakat lokal untuk mendukung pembangunan. Kedua, model pembangunan yang ditawarkan relatif sulit untuk diukur dalam tataran nasional dibandingkan dengan konsepsi development yang menggunakan angka-angka pertumbuhan ekonomi. Ketiga, dalam konteks daya saing antar negara, konsepsi Esteva juga relatif sulit untuk digunakan mengukur kemajuan antar negara.

Baca Juga:  Pilkada Takalar, Barometer Pilgub Sulsel?

Selain kritik atas pemikiran tersebut, Penulis juga berpandangan bahwa penggunaan kata Development seharusnya tidak diartikan secara berlebihan. Menurut salah satu Guru Besar UNHAS, Prof Darmawan Salman bahwa Development tidak harus diartikulasikan sepenuhnya dengan pembangunan karena di Jepang, arti Development diterjemahkan sesuai yang alamiah, bukan kata yang bertuah. Negara-negara seperti Jepang, Korea, dan China tidak menggantungkan diri terhadap negara-negara maju barat seperti Amerika. Justru ketiga negara tersebut dapat menjalankan perekonomian dalam negeri dengan memanfaatkan potensi lokal yang mereka miliki sendiri. Jepang misalnya, mereka mampu memanfaatkan potensi budaya yang kental untuk memajukan industri dalam negeri. Bukan hanya itu, sikap warga jepang yang terkenal “disiplin”, menjadi modal sosial yang kuat dan selalu dimanfaatkan dalam proses pembangunan.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.