Agung SS Raharjo, S.Sos, MPA
INIPASTI.COM, ANALISIS – Gaya hidup di era kemudahan teknologi dan informasi ini telah memberikan dampak secara psikis dan fisik. Ada kecenderungan manusia untuk malas bergerak. Karena semuanya serba sistem. Beragam kemunculan starup layanan jasa antar pesan makanan merubah tata cara bagimana manusia memenuhi konsumsi pangannya. Era disrupsi ini benar-benar telah memberikan sebuah alternatif baru cara kita mensikapi pemenuhan kebutuhan pangan. Sungguh sangat jauh berbeda ketika kita hidup dijaman sebelum teknologi dan sistem android ini ditemukan.
Dalam konteks tata nilai budaya kita, kehadiran teknologi yang memudahkan setiap individu untuk mengakses pangan secara cepat benar-benar cukup revolusioner. Sangat impresif, dan efisien. Semua terkoneksi dan terlayani. Pembeli benar-benar dimanjakan sebagai raja. Meski kemudian kesemua itu masih saja menyisakan problematika lain dalam dunia pangan kita. Sekalipun persoalan keterjangkuan di era 4.0 ini sudah dapat terjawab dan dapat dikatakan teratasi.
Kapita Problematika
Data Riset Kesehatan Dasar (2018) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan beberapa capaian yang positif salah satunya seperti penurunan prosentase stunting pada balita dari 37,2% (2013) menjadi 30,8% (2018). Namun demikian di saat bersamaan ada lonjakan penderita obesitas pada orang dewasa dari 14,8% (2013) menjadi 21,8% (2018). Begitupun juga terjadi pada pravalensi penyakit tidak menular seperti stroke, diabetes, hipertensi dan gagal ginjal. Misal untuk pravalensi strok naik dari 7% (2013) menjadi 10,9% (2018). Pemeriksaan gula darah, menunjukkan kenaikan pravalensi diabetes melitus dari 6,9% (2013) menjadi 8,5% (2018). Memahami gambaran riset ini maka dapat kita katakan bahwa ada problem serius dari cara konsumsi atau pola pangan sebagian penduduk negeri ini.
Persoalan negeri ini tentang cara berkonsumsi dalam beberapa hal masih nampak bermasalah. Pertama, bahwa dalam praktik konsumsi pangan sehari-hari kebanyakan penduduk di negeri ini bisa dikatakan paradoks dan merupakan persoalan klasik. Sekalipun telah masuk begitu banyak asupan karbohidrat dari beragam sumber makanan non beras, maka saat itu juga persepsi tentang “makan atau belum makan” tetaplah didasarkan pada intensitas mengkonsumsi nasi. “Belum makan nasi berarti belum makan” begitu adium yang populer dimasyarakat. Kontruksi tentang pangan seperti ini tentu akan memberikan kendala pada upaya-upaya penguatan ketahanan pangan. Sebagian masyarakat terbiasa dengan standart fisik sebagai ukuran pemenuhan pangan bukan pada kecukupan gizi. Tentunya ini sangat bertolak belakang pada subtansi penghapusan kelaparan yang sebenarnya tidak mempersoalkan keberadaan satu fisik pangan tertentu namun lebih pada pemenuhan standart gizi. Sungguh menjadi sebuah pekerjaan rumah (PR) yang besar untuk merubah cara pandang tersebut.
Kedua, dalam perkembangan dunia teknologi informasi ini ada problem laten yang cukup meresahkan yaitu persoalan kesehatan. Dapat kita bayangkan disaat persoalan klasik tentang mindset terpenuhinya pangan adalah bersumber dari konsumsi beras (nasi) disaat yang bersamaan ada bahaya laten dari kemajuan ini yang terkadang tidak disadari yaitu problem kesehatan degeneratif. Acapkali atau begitu awam ditemui bahwa penyikapan terhadap sebuah perubahan, moderniasai berupa teknologi atau sistem, tidak dibarengi dengan sebuah kesadaran lain yang harus dilakukan. Kemudahan akses pemenuhan pangan tanpa perlu bersusah payah, kecapekan dan kepanasan. Kulit tak perlu menghitam dengan peluh bercucuran. Dan kita semua begitu paham dengan lompatan kemajuan ini. Era 4.0 dimana semua terkoneksi dalam tata komunikasi yang borderless. Tidak terikat ruang.
Namun demikian sekali lagi bahwa secara umum ada problem mendasar dari cara berfikir sebagain masyarakat negeri ini dalam pengambilan keputusan tentang apa yang harus dipenuhi. Literasi tentang jenis dan kebutuhan gizi yang beragam menjadi sangat penting. Setiap individu harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang kebutuhan pangan bagi dirinya untuk menjadi insan yang sehat dan produktif. Sehat oleh sebab terpenuhi kebutuhan gizinya secara seimbang dan beragam. Dan produktif oleh sebab ketiadaan berbagai penyakit degeneratif yang melekat yang menjadikan setiap individu mampu beraktivitas dengan baik.
Peran keluarga
Saat ini satu hal yang menjadi tantangan utama pemerintah dalam persoalan pangan adalah menggerakkan pola konsumsi pangan yang beragam. Sosialisasi dan internalisasi tentu sangat diperlukan dan intens dilakukan. Sosialisasi ini mencakup pada target pengetahuan. Sedini dan sebanyak mungkin masyarakat harus dikenalkan dengan konsumsi pangan yang beragam. Bahwa begitu kompleks kebutuhan gizi yang harus dipenuhi dan kesemua itu harus dapat tercukupi. Sedangkan pada proses internalisasi ini memasuki wilayah pembiasaan. Keluarga menjadi salah satu kunci kesuksesan. Peran orang tua menjadi penting dalam pembiasaan mengkonsumsi pangan yang beragam kepada anggota keluarga dalam hal ini anak-anak. Jika ketahanan pangan dalam keluarga kuat, tentu konteks ketahanan pangan dalam hal ini adalah aspek pemanfaatan pangan, maka tujuan pembangunan nasional yakni mencerdaskan kehidupan bangsa yang lebih mudah tercapai. Hal ini tentu sederhana untuk dijelaskan, sebab ketika kebutuhan gizi ini terpenuhi secara seimbang maka akan membangun dan menumbuhkan kecerdasan yang optimal.
Dalam konteks aksi nyata tentu setiap rumah tangga dapat membuat demplot untuk tanaman sayuran dan buah. Saat ini telah banyak dikembangkan metode penanaman yang efisien bagi mereka yang tinggal diperkotaan. Dengan keterbatasan lahan, keluarga tetap dapat memenuhi sebagian keberagaman bahan pangan yang dibutuhkan. Pemerintah sendiri, melalui Kementerian Pertanian, seperti Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dan segenap program lain yang mendukung pemenuhan penganekaragaman pangan ditingkat rumah tangga. Dimana program tersebut dapat diduplikasi dalam kadar tertentu sesuai kondisi yang ada. Keluarga menjadi aktor kunci pencapaian target pemenuhan kebutuhan pangan yang beragam, berizi seimbang dan tentu aman.
//Penulis: Analis Ketahanan Pangan, Badan Ketahanan Pangan Kementan.










