Pemerintah Khianati Pengabdian Guru Honorer

Ratusan honorer K2 menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Sulsel.

INIPASTI.COM, MAKASSAR – Pemerintah telah secara resmi mengeluarkan formasi pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil 2018. Bahkan  beberapa daerah juga telah mengumumkannya, namun diantara sekian banyak formasi yang dibuka mereka yang masuk dalam eks kategori K2 harus berlapang dada.

Pemerintah mempersilahkan, merek mengikuti seleksi CPNS dengan batas usia maksum 35 tahun sedangkan banyak diantara mereka telah melewati batas umur tersebut terutama guru honorer dan ini adalah  penghianatan pemerintah terhadap guru-guru honorer.

Inline Ad

Pengabdian mereka selama bertahun-tahun dibayar murah oleh pemerintah dengan membatasi usia. Betapa tidak dari total 438.590 data K2 di BKN Pusat, hanya 13.347 orang yang memenuhi syarat untuk mendaftar.

Pemerintah memberi  perlakuan sama kepada mereka yang belum pernah mengabdi dan sudah pernah mengabdi pada batasa usia dan secara otomatis, guru-guru yang telah mengabdi 12 tahun atau lebih otomatis tak punya hak lagi menjadi PNS. Padahal selama ini mereka telah menjadi tulang punggung pendidikan Indonesia dengan bayaran murah.

Baca Juga:  Aturan Baru Penyaluran Dana BOS Dinilai Untungkan Guru Honorer

Selain tidak berpihak pada dunia pendidikan dengan hanya mengangkat 83.000-an guru, pemerintah juga jelas-jelas menyepelekan pengabdian guru selama bertahun-tahun dengan nasib tak menentu karena kontrak hanya setahun dan dengan bayaran yang begitu murah.

Seorang guru di Maros tak kuasa menahan tangis karena menerima honor hanya Rp.750.000 untuk akumulasi mengajar selama tiga bulan dan saat terbuka pendaftaran CPNS, usianya sudah 41 tahun padahal guru tersebut telah mengabdi sebagai guru sejak tamat kuliah 18 tahun lalu.

Penghianatan terhadap pengabdian ini bisa berdampak pada mogok massal guru honorer yang saat ini mengisi lebih dari 50% formasi guru pada sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

Baca Juga:  Hervina Guru Honorer Bone Posting Gaji, Mengabdi 16 tahun Dipecat Kepsek

Saat ini kawan-kawan guru Honorer di seluruh Indonesia turun ke jalan menuntut pemerintah menghilangkan batasan usia, tak elok mereka ditolak pemerintah setelah mengabdi lebih dari 12 tahun. Hal ini seharusnya tidak terjadi karena hal ini mengganggu dunia pendidikan, jika guru honorer turun ke jalan, lalu siapa yang menghadapi siswa di ruang kelas??

Tetapi pemerintah juga harus cermat, harus memperhatikan apakah sang guru honorer dalam 2 tahun terakhir mengabdi sebagai guru atau tidak, jika tidak, harusnya langsung dicoret haknya sebagai K2.

Soal kualitas, IGI meminta pemerintah bertahan, IGI ingin mereka yang diangkat jadi PNS betul-betul berkualitas sehingga tidak menambah masalah baru dalam dunia pendidikan. Seleksinya pun bukan hanya seleksi kompetensi profesional tetapi juga kompetensi paedagogik, sosial dan kepribadian.

Penulis: Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI), Ramli Rahim

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.