Perayaan Natal di Era Kebiasaan Baru

Dr. Ariella Hana Sinjaya, S.Pd., M.Div., MH


oleh: Dr. Ariella Hana Sinjaya, S.Pd., M.Div., MH

INIPASTI.COM, OPINI — Perayaan Natal tahun 2020 sangat berbeda dengan tradisi tahun-tahun sebelumnya. Sebagian gereja masih memungkinkan untuk melakukan perayaan Natal di gedung gereja dengan memperhatikan protokol kesehatan. Sebagian gereja yang lain melaksanakan ibadah Natal secara online di mana para jemaat berkumpul dengan keluarga di rumah masing-masing dan mengikuti ibadah melalui layar online. Tradisi open house untuk saling berkunjung juga menjadi terbatas atau tidak memungkinkan untuk dilaksanakan tahun ini. Pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan berakhirnya telah mendesak orang di seluruh dunia untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru di dalam berbagai aspek kehidupan.

Inline Ad

Natal adalah memperingati kelahiran Yesus Kristus (Isa Almasih) yang di diamini oleh Umat Kristiani sebagai Juru Selamat, Sang Penebus Dosa dan Pembawa Damai sukacita bagi siapa saja yang mau percaya dan menerima Dia. Menelisik jauh kepada peristiwa Natal pertama, sebenarnya peristiwa itu bukan terjadi dalam kemegahan pestapora dan hiasan dekorasi fisik yang menawan hati seperti tradisi perayaan yang dilakukan setiap tahun. Justru pada malam itu tidak ada satu pun tempat yang lebih layak selain kandang domba tempat Yesus dilahirkan dan dibaringkan dalam sebuah palungan (tempat makanan domba). Mengenang hal itu, bukanlah suatu keharusan merayakan Natal dalam kemegahan atau kemewahan, karena Natal yang pertama terjadi sangat sederhana namun penuh dengan makna dan dampak positif.

Baca Juga:  [OPINI] Kecerdasan Paralel

Merenungkan kondisi pada peristiwa Natal Pertama, ada banyak unsur pengorbanan yang terjadi: Yusuf dan Maria banyak melakukan pengorbanan dalam memberi diri untuk kelahiran sang Juru Selamat. Demikian juga orang-orang yang terlibat dalam peristiwa Natal Pertama – mereka juga melakukan pengorbanan. Namun yang terutama adalah pengorbanan Yesus bagi se-isi dunia untuk membebaskan dari belenggu dosa dan memberikan kehidupan yang kekal bagi siapa saja yang mau percaya. Maka perayaan Natal akan lebih indah bila diwarnai dengan saling memaafkan dan menghapus kesalahan walaupun harus disertai dengan pengorbanan.

Peristiwa Natal juga mengajarkan solidaritas dan kerendahan hati. Yesus Kristus adalah Tuhan yang pada hakikatnya setara dengan Allah Bapa, namun Ia rela mengosongkan diri dan merendahkan diri mengambil rupa seorang manusia/hamba agar bisa mati sebagai penebus bagi dosa-dosa dunia. Natal pertama itu mengingatkan kita untuk memiliki rasa solidaritas terhadap mereka yang terpinggirkan, yang miskin dan menderita, serta menyadari bahwa setiap manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama dan tiap manusia tanpa terkecuali adalah berharga di mata Tuhan Pencipta karena peristiwa inkarnasi itu berlaku untuk penebusan dosa se-isi dunia.

Berita Natal yang pertama dikumandangkan oleh para malaikat dan tuntunan bintang yang membawa para gembala yang mungkin tidak berpendidikan setinggi dan kaya raya seperti para Majus (orang yang ahli dalam perbintangan) untuk hadir merayakan Natal dalam kesunyian malam waktu itu. Oleh sebab itu, Natal yang sejati juga bersifat universalitas – Natal bukan hanya untuk golongan atau komunitas tertentu, namun bagi semua orang dari segala macam suku bangsa, kaya atau miskin, terpelajar atau pun tidak. Siapa saja yang mau mengerti makna Natal dan mempercayainya, dapat ikut merayakan Natal dan menyambut Yesus Kristus di dalam hatinya.

Baca Juga:  Mempertanyakan Sistem Merit di Indonesia

Peristiwa Natal juga merupakan kemenangan bagi seluruh umat manusia karena merupakan penggenapan janji Allah membebaskan manusia dari belenggu dosa dan memiliki pengharapan akan hidup yang kekal seperti yang tertulis dalam Injil Yohanes 3:16: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Oleh sebab itu, bagi seluruh umat Kristiani, perkenan saya mengucapkan Selamat Hari Natal dan mari merayakan dalam perdamaian, kasih dan sukacita sekali pun kita merayakan dalam kesederhanaan. Covid-19 bukan penghalang untuk kita tetap mengalami Nikmat Natal dan Anugerah Illahi serta berbagi kasih kepada mereka yang terpinggirkan, miskin dan menderita.

Mengakhiri tulisan ini, perkenan saya mengajak kita semua menaikkan doa kepada Tuhan Sang Pemberi Kehidupan agar pandemi Covid-19 segera berlalu dan setiap aspek kehidupan kita dipulihkan. Mari mendukung Pemerintah yang berupaya keras memajukan kota dan bangsa, dengan sikap “Sipakatau, sipakainge, sipakalebbi“ biarlah kita saling mengingatkan untuk tetap patuh pada Protokol Kesehatan dan bersabar hingga pandemi Covid-19 sudah berlalu. Bersama kita mempererat tali persaudaraan sebagai saudara sebangsa dan se-tanah air dan memperkokoh Bhinneka Tunggal Ika serta bergotong-royong memajukan Indonesia menuju masa keemasan yang gemilang. NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila harus menjadi harga mati bagi setiap orang Indonesia!!

Baca Juga:  Garuda Indonesia Berikan Potongan Harga hingga 40% pada Libur Nataru 2019/2020, Cek Rute-Rute Domestiknya

//Ketua Persatuan Masyarakat Kristen Indonesia Timur (PMKIT) Sulawesi Selatan

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.