Pesona Dramaturgi

INIPASTI.COM – Tak ada yang sangsikan, dunia adalah panggung sandiwara. Sebagai panggung sandiwara, dunia sedang menyajikan ragam cerita, warna-warni tingkah laku. Ada yang tampil dengan cerita horor, yang lain mengusung genre komedi, romance, thriller, advanture , musical, drama dan bahkan action atau perang. Aktor setiap sandiwara adalah seluruh penghuni jagad raya, tak terkecuali, semuanya memiliki hak untuk mementaskan gagasan dan ide ceritanya. Ada yang datang dengan cerita duka lara, jiwa yang luka, tubuh yang rapuh, ada yang memperlihatkan keperkasaan, ada yang mempertontonkan betapa pentingnya kekuasaan, betapa dahsyatnya pengaruh, dan betapa candunya saling mengalahkan, saling meremehkan. Untuk mengikat daya tarik, semua cerita selalu dibumbui oleh harta dan wanita, karena keduanya adalah penghias dan pemuas kehidupan. Itu sebabnya wanita disebut sebagai hiasan dunia, sedangkan harta adalah oase dunia.

Karena dunia adalah panggung sandiwara, maka setiap cerita selalu memiliki durasi. Setiap pementasan ada aturan mainnya, ada petunjuk pelaksanaannya. Resiko selalu mengintai bagi para aktor yang mendustakan isi kitab-kitab kebenaran, yang mengatur tata cara pementasan kehidupan. Allah yang maha: melihat; mendengar, dan mengetahui, telah menyebarkan kitab sucinya beribu-ribu tahun yang lampu, mulai dari Zabur, Taurat, Inzil, hingga Alquran yang menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya. Ribuan Nabi dan puluhan Rasul telah diutus Allah untuk mengatur kaidah-kaidah berkehidupan. Karena Allah telah menyempurnakan kisi-kisi tentang kehidupan, maka dunia menjadi fase untuk menguji ketaatan manusia kepada Tuhannya, dengan tempo yang singkat.

Tapi kini, dunia seakan-akan menjadi arena tunggal, hanya untuk merebut kuasa, ibarat lapangan luas hanya untuk saling mengalahkan. Dunia menjadi tempat untuk menghimpun kekayaan, mengumpulkan kewibawaan, tempat mengatur siasat untuk menjadi yang paling dihormati. Aktor-aktor penghuni dunia sedang lupa dengan kebajikan-kebajikan yang substantif. Kalau ada kebaikan yang disebarkan, lagi-lagi kebaikan itu hanya untuk memperoleh kekuasaan, kekayaan dan kehormatan yang lebih besar. Karena kekuasaan dan kehormatan hanya bisa diraih dengan kebajikan dan kebaikan, maka para aktor di jagad raya ini akan mempersiapkan dirinya untuk dipentaskan dengan bingkisan dan packaging yang menakjubkan. Tutur katanya tertata baik dan halus, perilakunya santun dan terjaga, ankara murka, kebringasan, keangkuhan, ancaman dan teror diabaikan sementara waktu. Demi kuasa, demi harta, demi kewibawaan dan kehormatan.

Baca Juga:  Atmosfir Kehidupan

Pementasan kehidupan kita penuh dengan kontradiksi-kontradiksi. Situasi ini memasuki fase dramaturgi. Situasi dimana manusia melakukan permainan-permainan, atau semacam sandiwara kehidupan yang disajikan oleh manusia, dimana para aktor memproses dirinya dalam arena sosial untuk meyakinkan dirinya dan orang lain, sebelum ia bertindak untuk menafsirkan selera sosial, agar dalam melakukan interaksi sosial ia mendapatkan pandangan dan respon yang positif dari orang lain. Untuk sampai pada titik ini, aktor rela melakukan manipulasi-manipulasi hanya sekedar untuk meyakinkan masyarakat sosial tentang dirinya yang baik, yang terhormat, yang jujur, yang bekerja keras, dan seterusnya.Interaksi semacam ini disebut sebagai interaksi yang bersifat simbolik.

Interaksi simbolik adalah sebuah jenis interaksi dengan nalar tunggal bahwa dirinya (self) seseorang adalah pribadi yang dibutuhkan aktor-aktor lain untuk menyelesaikan sejumlah masalah sosial dan membangun kehidupan yang berkeadaban. Hasil interaksi itu kemudian dikumpulkan dalam bentuk kesadaran diri individu mengenai keterlibatannya yang khusus dalam seperangkat hubungan sosial yang sedang berlangsung, yang memiliki corak sosial tertentu. Kemudian situasi ini dilegitimasi secara sosial untuk dijadikan sebagai perangkat lunak untuk menusuk-nusuk kesadaran sosial, agar masyarakat sosial memberikan pengakuan akan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, meskipun itu hanyalah hasil manipulasi.

Baca Juga:  Ontologi Pengabdian

Dunia sosial yang penuh dengan konsep dramaturgi, akan melahirkan banyak aktor yang memiliki wajah depan dan wajah belakang yang berbeda. Pada wajah depan, aktor yang ingin mendominasi selera ruang-ruang publik, akan menempelkan wajahnya dengan topeng-topeng yang menarik dan enak ditatap, akan mengisi pita suaranya dengan suara yang bagus didengar, dan menyusun konsep berbahasa yang santun dan mudah difahami. Pokoknya ruang depan bagi pelaku dramaturgi adalah olesan, lipstik dan mempesona. Sedangkan karakter personal yang sesungguhnya tersusun pada wajah belakang, keasliannya ada di sini. Keterbatasan, kesombongan dan nafsu menindas tersusun pada wajah belakang.

Tantangan terbesar bagi masyarakat publik adalah bagaimana membedakan aktor-aktor yang berwajah ganda dan berwajah tunggal? Karena mereka, terutama aktor politik senantiasa mementaskan dirinya tampak asli. Kita semua harus menyadari, tipu-tipu, rayuan, dan argumentasi palsu sedang menguasai panggung kehidupan.

Kita semua harus mengingatkan kepada para aktor yang haus kuasa dan harta, bahwa hidup ini panggung sandiwara, jangan lupa bahwa setiap permainan ada akhirnya. Setiap pementasan ada durasinya. Sejarah membuktikan, dunia tidak abadi, justru yang abadi adalah perubahan, pergeseran dan pergantian. Tak ada kuasa yang terus menerus, tak ada harta yang tidak merapuh. Kalau manusia memaksakan kehendak untuk terus memenrus menguasai, merajalela, meraih dan mengumpulkan, hukum alam (sunatullah) akan turun tangan untuk melakukan perlawanan. Ketika Fir’an ingin meniscayakan keangkuhan dan kekuasaannya terus menerus, Allah hanya mengutus Musa dan Harun untuk membereskannya. Ketika ummat Nabi Nuh tidak mau berubah dan mangkir dari ajaran kebenaran, Allah hanya mencurahkan air bah yang membanjir hingga ke puncak gunung. Ketika sebuah kaum buta dan tuli akan kebenaran ketauhidan, Allah mengutus Ibrahim yang dapat mendinginkan bara api. Kisah kehidupan telah membuktikan, tipu daya dan keserakahan yang melampaui batas pasti akan berakhir. (/IMF)