INIPASTI.COM, MAKASSAR – Kemenangan dalam pertarungan pilkada gubernur salah satu variabel kunci sangat menentukan, adalah sosok yang bakal dijadikan paket wakil gubernur. Penentuan paket pasangan pilkada ini dilakukan dengan berbagai aspek pertimbangan.
Salah dalam memilih paket pasangan wakil gubernur akan membawa dampak kegagalan menjadi pemenang dalam pertarungan politik tersebut.
Faktor yang menjadi pertimbangan utama bakal calon (balon) gubernur dalam menentukan paket pasangan adalah dengan memperhatikan geopolitik.
Sejarah politik Sulsel terutama di era Reformasi persoalan geografi politik cukup seksi menjadi isu dalam ranah pilkada gubernur yang digelar sekali dalam lima tahun.
Peta geopolitik Sulsel dalam era kekinian dikenal adanya wilayah Bosowasi (Bone, Soppeng, Wajo dan Sinjai), ada Ajatappareng (wilayah sekitar Danau Sidenreng) masuk daerah, Parepare, Sidrap, Pinrang dan Barru.
Wilayah Luwu Raya dan Toraja serta wilayah Selatan Selatan Sulsel, masuk mulai dari Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Selayar Bulukumba.
Selain itu Makassar selaku ibu kota Provinsi dengan penduduk relatif besar juga menjadi wilayah sangat diperhitungkan dalam kemenangan para petarung politik tersebut.
Memasuki arena pertarungan pilkada Gubernur Sulsel 2018, peta geopolitik para balon wakil gubernur sudah mulai sangat kencang tarik menarik politiknya terutama untuk sentimen geopolitik.
Sosok yang sangat kuat dan populer dibicarakan mewakili wilayah asal geopolitik itu terdeteksi dan terbaca dari wacana dan pergerakan para balon wagub tersebut.
Pada wilayah Selatan Selatan Sulsel, sosok yang kuat terwacanakan adalah mantan Bupati Bantaeng dua periode, Azikin Solthan.
Sosok ini dikenal selaku birokrat paripurna, berkarier mulai dari bawah pernah jadi sekda di Gowa, asisten Sekprov Sulsel dan Kepala Badan Inspektorat dan kini menjadi anggota DPR RI dari Partai Gerindera.
Selain Azikin, ada juga Ashabul Kahfi, dikenal selaku Ketua DPW PAN tiga periode dan menjadi Wakil Ketua DPRD Sulsel dari Fraksi PAN juga selama 15 tahun. Modal 7 kursi DPRD Sulsel akan memberi daya tawar dalam penentuan paket wakil gubernur.
Sebelum terjun pada dunia politik di awal reformasi 1998, bertahun-tahun Kahfi menjadi dosen di IAIN Alauddin Makassar kemudian berubah jadi UIN Alauddin Makassar.
Ibu kandung Kahfi adalah orang asli Bantaeng, sedangkan bapaknya, H.Djamalauddin Amien adalah tokoh Muhammadiyah Sulsel, pernah jadi Rektor Unismuh Makassar dan Ketua DPW PAN Sulsel. (bersambung)










