INIPASTI.COM, Hujan. Di bulan Mei. Di Makassar, angin timur biasanya telah mulai meniupkan lagu keringnya, membawa debu jalanan dalam tarian yang pasrah. Tapi hari ini, langit memilih mengirim butir-butir air. Sebuah anomali.
Tanah yang retak, yang terbiasa menelan dahaga di bawah matahari tanpa kompromi, kini tergagap menerima basah. Ada bau yang bangkit—petrikor—aroma purba tanah yang disentuh air setelah lama alpa. Wangi yang terasa seperti ingatan yang datang tiba-tiba, tak diundang, tapi membekas.
Mengapa hujan ini? Ia datang bukan pada musimnya. Ia seperti tamu ganjil di tengah pesta yang salah. Ia menginterupsi narasi kemarau yang seharusnya berjalan lurus, tanpa belokan. Apakah ini tanda? Entahlah. Langit tak pernah memberi penjelasan rinci atas kejutan-kejutannya. Ia hanya menyajikan, lalu berlalu.
Kita, manusia, seringkali risau oleh hal-hal di luar skema. Kita merindukan keteraturan, siklus yang bisa diramal: musim hujan, lalu musim kemarau. Hujan di bulan Mei ini terasa seperti kalimat sumbang dalam sebuah sajak yang rapi. Ia mengganggu, sekaligus—mungkin—membawa janji sekejap. Janji kesejukan yang fana.
Lihatlah dedaunan itu. Kemarin berdebu, kini berkilat sesaat di bawah cahaya yang kembali ragu. Air menitik, lalu berhenti. Genangan kecil di aspal akan segera menguap, seolah tak pernah ada.
Mungkin hujan ini tak berarti apa-apa. Sekadar jeda. Sela dalam rutinitas cuaca yang, seperti hidup, tak selalu taat pada aturan yang kita buat untuknya. Ia datang, membasahi, lalu pergi.
Meninggalkan tanah yang kembali bersiap untuk kering, dan kita yang bertanya-tanya dalam senyap: apa makna sebuah interupsi?
Barangkali tak ada. Atau barangkali, justru di situlah artinya: dalam kerapuhan momen yang tak terduga, yang mengingatkan bahwa tak semua hal berjalan sesuai rencana. Bahkan langit pun bisa ‘lupa’ pada musimnya sendiri?
Redaksi










