INIPASTI.COM, MAJENE, – Beberapa daerah di Majene, Sulawesi Barat, masih terisolir sejak bencana gempa terjadi, Kamis (14/1). Tim assessment Wanua Panrita melakukan validasi data dari Pemdes ke Dusun terdampak parah, yakni Dusun Tatibajo dan Sambalegea pada, Minggu (24/1). Dua dusun yang terdampak parah namun masih minim dalam mendapatkan bantuan.
Hal ini dikarenakan aksesnya yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Gempa yang terjadi 14 Januari 2021 lalu menyebabkan longsor sehingga akses menuju dusun ini tertutup.
Hasil dari Assessment akan ditindaklanjuti oleh relawan Wanua Panrita dalam hal penyaluran bantuan.
Wanua Panrita salurkan bantuan untuk membantu meringankan beban para korban bencana alam gempa bumi yang terjadi di Majene, Sulawesi Barat.
Bantuan kemanusiaan tersebut berupa sembako dan kebutuhan bayi seperti popok, bubur bayi, minyak angin dan berbagai kebutuhan khusus diperuntukkan untuk anak usia 4 tahun kebawah yang saat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang sedang merawat anaknya di kamp pengungsian.
Majene sendiri dilanda bencana alam gempa bumi dengan magnitudo 6,2 SR yang memporak-porandakan daerah ini dan tetangganya yakni Mamuju pada pertengahan Januari 2021. Hal ini mengakibatkan banyaknya rumah warga dan fasilitas umum roboh yang memaksa masyarakat untuk mengungsi di beberapa titik pengungsian yang telah ditentukan oleh pemerintah setempat.
Sebanyak 200 paket kebutuhan umum dan bayi disalurkan oleh relawan Wanua Panrita di dua desa berbeda yang terdampak parah berdasarkan hasil assessment relawan sebelumnya. Dua Desa tersebut adalah Desa Kabiraan yang secara geografis terletak di pegunungan dan Desa Salutambung yang letaknya tidak jauh dari daerah pesisir Majene.
Terdapat 3 Dusun dari Desa Kabiraan yang mendapatkan bantuan berupa paketan sembako dan paket kebutuhan bayi ini, yakni Dusun tamarimbi Pusat, Tamarimbi Barat, dan Tamarimbi Utara. Sedangkan Dua dusun lainnya berada di Desa Salutambung, yakni Dusun Tatibajo dan Sambalegea.
Bantuan ini disalurkan oleh relawan Wanua Panrita dengan cara yang berbeda, karena lokasi pengungsian yang berada jauh diatas gunung dan akses yang terhalang longsor, model penyaluran bantuan tidak dilakukan secara lansung di kamp pengungsian akan tetapi warga yang namanya sudah terdaftar dalam data assessment relawan dapat mengambil bagiannya melalui perwakilan setiap Dusun.
Tentu saja hal ini disetujui oleh Kepala Desa setempat melihat akses yang sejauh ini belum bisa dilewati oleh kendaraan roda empat. Yunus, Kepala Desa Kabiraan mengungkapkan keluhannya atas longsor yang menghalangi jalan ke Desanya
“Sebenarnya banyak bantuan yang bisa lansung didapatkan oleh pengungsi di Desa Kabiraan, tapi terhalang oleh jalanan yang tertimbun longsor, bantuan hanya bisa diangkut menggunakan kendaraan bermotor kemudian disalurkan secara berangsur”, tutur pria paruh baya ini saat berbincang dengan relawan Wanua Panrita, Kamis 28 Januari.
“Dengan adanya bantuan berupa paket sembako dan kebutuhan bayi ini diharapkan dapat membantu mencukupi kebutuhan pengungsi, apalagi banyak pengungsi yang memiliki anak dibawah 4 tahun yang juga memerlukan perhatian khusus”, Ujar Erik, Koordinator lapangan Wanua Panrita.
Penyaluran bantuan yang dilaksanakan pada tanggal 23-26 Januari 2021 ini merupakan hasil dari berkolaborasi dengan lembaga Ide Berbagi, Business Online School, dan Prodia Laboratorium Klinik serta Kalla Logistik yang turut mbantu dalam mobilisasi bantuan ke Majene.
Ketua Umum Wanua Panrita, Hasdinar Burhan menyebutkan sejak bencana ini terjadi, Wanua Panrita sudah mulai menggalang donasi melalui media sosial. Hal ini merupakan bentuk kepedulian terhadap korban bencana.
“Kami berharap bantuan logistik ini dapat meringankan beban para korban gempa. Dan mudah-mudahan Sulbar bisa bangkit kembali. Amiin,” pungkasnya.










