Pasca sebuah serangan udara terakhir di dalam kota, saya temukan seorang ibu yang memeluk erat kaki seorang gadis kecil, hanya sebelah kakinya, sambil berteriak: “Saya menemukannya. Ini kaki putri saya. Saya tidak akan melepaskannya, ini kakinya.”
Saya coba keluarkan kengerian itu dari benak dengan menatap gelas kopi yang dibelikan istri saya, Zaina, dan membayangkannya terisi penuh kopi. Saya tidak punya lagi kopi, tapi meski saya punya sekalipun, tidak ada gas untuk memanaskan airnya. Itu menunjukkan betapa saya juga merindukan aroma kopi.
Untuk mencegah rasa putus asa itu keluar kamar, saya hubungi Zara lewat videocall. Dia hanya berjarak 90 km dari saya, namun saya hanya bisa memandangnya melalui layar kecil ini, dan saya yakin dia tidak akan tahu bedanya menonton saya dengan menonton lagu “lima monyet kecil melompat di pembaringan”. Bagi dia, saya tak lebih dari sebuah bayangan berkedap-kedip yang dia tonton di layar komputer ibunya selama beberapa menit lalu dia akan bosan dan memalingkan wajahnya.
Dia sekarang sudah bisa tengkurap. Saya tidak Sempat menyaksikan itu. Saya juga tidak sempat menyaksikannya makan makanan pertamanya dan, jika pengepungan ini tetap berlanjut, saya juga tidak akan sempat menyaksikan segala hal pertama yang dilakukannya–merangkak, melangkah, berkata-kata. Ah, semua itu akan membunuh saya, yang berhasil bertahan hidup menghadapi segalanya selama lima tahun ini.
Bulan lalu, saya kembali menderita luka ketika misil Rusia meledak sekitar 20 meter dari mobil saya. Saya merasakan apa-apa, hanya tiba-tiba semua jadi putih menyilaukan akibat ledakan dan debu yang beterbangan. Sedemikian putihnya sehingga pendengaran dan pandangan saya menjadi samar-samar dan perlu beberapa menit untuk menyadari di mana saya berada dan apa yang telah terjadi.
Akhirnya, seseorang datang dan memecahkan kaca mobil saya dan menarik saya keluar, anggota tim penyelamat yang kini harus diselamatkan. Saya tidak bisa menyelamatkan diri, sebagian dikarenakan oleh shock, sebagian lagi karena saya luka lama pada pundak saya masih belum sembuh. (—>bersambung 3/4)










