INIPASTI.COM, TAKALAR – Kedatangan Sayyid Djalaluddin di Cikoang, tampaknya disambut hangat dan mendapat simpatik dari mayarakat Cikoang. Terlebih ketika baru datang, ia langsung mengadakan silaturahmi dengan masyarakat setempat sekaligus dibarengi dialog. Ini tentu atas bantuan Idanda dan Ibunrang.
Setelah memperhatikan situasi dan kondisi masyarakat Cikoang, Sayyid Djalaluddin mengharapkan bantuan Danda dan Bunrang untuk mengundang keluarganya mengadakan dialog atau temu bicara tentang pengertian akidah. Dalam dialog ini, mereka mendiskusikan mana yang sebenarnya firman Allah yang terurai dalam Al-Quran.
Baca juga :Salat Jumat yang Pertama
Ditemukan dalam surah Al-Asr ayat 1,2, dan 3, yang artinya demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menepati kesabaran.
Dari sekian banyak masalah yang didiskusikan, semuanya itu, bertalian dengan pengertian akidah. Dalam diskusi ini, Sayyid Djalaluddin membahas ajaran dan pelajaran Islam tentang perbedaan intern dan ekstern. Hasil pertemuan ini, telah melahirkan keputusan atau kata sepakat. Telah disepakati; Pertama, Sayyid Djalaluddin untuk menjadi penyiar agama Islam, mendidik dan mengajarkan kepada penduduk yang takwa dan percaya adanya maha pencipta alam semesta, dan adanya Rasul pilihan yang telah diuraikan dalam ucapan syahadat.
Kedua, setiap masalah yang terjadi dalam segala aktivitas, baik ke dalam maupun ke luar, Sayyid Djalaluddin diharapkan menyelesaikan dengan aman dan tertib terkendali. Ketiga, Sayyid Djalaluddin berhak meneliti dan memerhatikan setiap alternatif yang terdapat dalam lingkungan masyarakat sektor Danda dan Bunrang. Keempat, dalam pembinaan persatuan dan kesatuan, keyakinan dan ketakwaan harus dibarengi kesadaran dan keinsyafan dan selalu berdasarkan dengan Alquran dan Hadis, Ijma dan Kiasm, serta Kelima, Planning kerja.
Sayyid Djalaluddin diharapkan dapat menyebarluaskan kepada segenap jemaah, demi terwujudnya hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia dengan manusia. Keputusan ini telah diberi nama Panca-Sepakat.
Setelah keputusan ini telah menjadi pedoman hidup dan kehidupan oleh masyarakat Cikoang, Sayyid Djalaluddin mulai mengembangkan berbagai macam teori dan praktik tentang rukun Iman, mengajarkan rukun Islam secara tertib dan paralel. Dalam setiap menyebarkan ajaran-ajarannya, selalu menegaskan firman Allah, dalam surah An Nur (ayat 54), artinya dan tidak lain kewajiban Rasul itu, melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. Adapun setiap kali Sayyid Djalaluddin mengadakan dialog dengan Danda dan Bunrang kenangan yang dirasa menimbulkan konsentrasi yang seakan menjadi imbauan qalbu, yaitu peristiwa peringatan yang mengandung kebajikan. (*)
Baca juga :Peringatan Syafar dan Rabiul Awal
//










