INIPASTI.COM,TAKALAR –Dalam urutan sejarah peralihan keturunan Sayyid Djalaluddin sebagai pewaris ahli “Bait Rasulullah SAW”, peringatan 10 Syafar dianggap sebagai awal pengertian agama dan bulan Rabiul Awal dijadikan titik tolak dalam ketegasan Atiiurrasul.
Sayyid Djalaluddin memperingati 10 Syafar dengan mandi air kesucian ulang tahun menyongsong bulan Rabiul Awal. Dengan partisipasi dan kerja sama yang baik antara Sayyid Djalaluddin dengan Idanda dan Ibunrang, Ibutusang sekeluarga, maka perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dapat dilaksanakan di Cikoang pada tarikh 12 Rabiul Awal 1041 H/ 11 November 1620 M.
Baca juga :Lahirnya Keputusan Panca-Sepakat
Cara dan tata tertib penyelenggaraan peringatan tersebut, diisyaratkan dengan empat macam benda perumpamaan di antaranya:
- Padi diumpamakan sebagai tubuh,
- Ayam diumpamakan sebagai roh,
- Kelapa diumpamakan sebagai hati
- Telur diumpamakan sebagai rahasia
Perumpamaan tersebut, berdasarkan firman Allah SWT yang diuraikan dalam Alquran surah Ankabut (43), yang artinya, dan perumpamaan-perumpamaan ini kami buatkan untuk manusia, dan tiada yang memahami kecuali orang yang berilmu.
Dengan peringatan Syafar dan Rabiul Awal, Sayyid Djalaluddin mengharapkan jemaah dalam ajarannya menguatkan pembinaan takwa.
Menguraikan takwa secara mendalam, ialah mengendalikan pengertian syariat, tarikat, hakikat, dan ma’rifat, karena hal tersebut adalah sumber kesatuan dan persatuan. Istilah syariat, tarikat, hakikat, dan ma’rifat itu dimulai pada saat Muhammad SAW dibelah dadanya oleh malaikat atas perintah Allah SWT, dicuci hatinya dengan cucian rahmat Allah dan dilimpahkan berkah pada tubuhnya “kata Muhammad” (syariat), pada rohnya kata “Mauludu” (tarikat), pada hatinya kata “Ahmad” (hakikat), dan pada rahasianya kata “Yaasin” (ma’rifat).
Dalam pengertian tersebut sangat dipandang perlu umat Islam menegtahui tempat dan kedudukan yang sebenarnya. Sabda Rasulullah SAW, yang artinya, malu, iman, dan takwa hanya satu. Bila rusak di antara satu maka rusaklah keseluruhannya (HR Al Hakim). Untuk menempatkan takwa pada tempat yang sebenarnya, ialah takwa kepada Allah dan Rasulnya mengandung syafaat dan hakiki secara umum, khusus , dan “khusus untuk khusus.”
Kewajiban umat Islam belajar dan mempelajari rukun takwa (rukun Islam) agar tidak merasa keliru dari berbagai kenyataan dan peralihan. Agama Islam adalah agama yang berpatokan dan berpedoman pada ajaran Islam, Alquran, dan Hadis. Takwa itu menjadi sarana perjuangan Islam menegakkan falsafah agama giat dan “katif” melaksanakan hak dan kewajiban umat. Dengan takwa, umat Islam dapat menampakkan sifat fardhu dan sifat sunnah, saling berkaitan dan saling paralel. (*)
Baca juga :Salat Jumat yang Pertama
//










